Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPARAN gawai secara berlebihan pada usia dini berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), mengungkapkan bahwa penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat menghambat kemampuan berbicara dan bersosialisasi balita.
Dalam praktik klinisnya, Prof. Rini kerap menemukan kasus anak yang mengalami kendala perkembangan akibat gawai.
"Yang sering terjadi adanya keterlambatan bicara dan kesulitan sosialisasi dengan teman sebaya," ujarnya, dikutip Rabu (1/4).
Menurut Prof. Rini, masa balita adalah fase krusial bagi perkembangan bahasa dan interaksi sosial. Pada periode ini, anak sangat membutuhkan stimulasi melalui komunikasi dua arah yang intens dengan orangtua serta lingkungan sekitar.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
"Tidak ada stimulasi dua arah dengan penggunaan gawai. Anak hanya mengulang yang didengar, suara atau kata-katanya," jelas Prof. Rini.
Ia menambahkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan dalam jangka panjang, kemampuan belajar anak pun dapat ikut terdampak.
Menyikapi risiko tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan dukungannya terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau dikenal sebagai PP Tunas.
Regulasi ini bertujuan melindungi anak di bawah usia 16 tahun dari platform digital berisiko tinggi. Berdasarkan aturan yang mulai diterapkan bertahap sejak 28 Maret 2026, akun milik anak di bawah usia 16 tahun pada platform seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, X, hingga Roblox harus dinonaktifkan.
Langkah pemerintah ini diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif paparan konten digital yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak. (Ant/Z-1)
Kemendukbangga/BKKBN menyiapkan sejumlah posko layanan keluarga di berbagai titik strategis jalur mudik Lebaran 2026 yang tersebar di 31 provinsi
Banyak orang tua merasa bangga ketika buah hatinya yang masih balita sudah mahir menyebutkan warna dalam bahasa Inggris atau hafal lagu-lagu populer dari video di ponsel.
Kombinasi gerakan mengayun dan suara mesin kendaraan bekerja secara sinergis menenangkan sistem saraf anak.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Jarak struktur bangunan yang tidak terlalu menempel pada lereng menjadi faktor kunci minimnya dampak fatal.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved