Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
HIMPUNAN Psikologi Indonesia (Himpsi) menekankan bahwa edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi mereka dari risiko kekerasan seksual.
Bendahara Himpsi Wilayah Aceh, Devi Yanti, M. Psi., Psikolog, menegaskan bahwa usia 3 sampai 4 tahun adalah momentum yang tepat untuk memulai.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa fokusnya bukan pada aktivitas seksual, melainkan pada pengenalan tubuh, batasan diri, dan rasa aman.
"Edukasi sudah bisa dimulai sejak usia dini kurang lebih 3-4 tahun, tentunya dengan bahasa yang sangat sederhana dan sesuai tahap perkembangan anak," ungkap Devi Yanti.
Pada tahap ini, anak mulai belajar mengenal identitas fisiknya. Orangtua perlu mengajarkan nama bagian tubuh dengan ejaan yang benar, termasuk area pribadi seperti alat kelamin dan payudara.
Penggunaan istilah yang akurat sangat penting agar anak bisa melapor dengan jelas jika terjadi sesuatu.
Anak juga harus mulai memahami konsep otoritas tubuh. Tekankan bahwa area pribadi mereka tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa alasan medis yang didampingi orangtua.
"Akan lebih baik jika anak diberi tahu mengenai perbedaan sentuhan yang baik, membingungkan dan tidak nyaman agar mereka dapat memahaminya dengan lebih jelas," tambah Psikolog Klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh tersebut.
Memasuki usia sekolah, fokus bergeser pada privasi dan kewaspadaan sosial. Anak-anak harus sudah memahami risiko berinteraksi dengan orang lain, baik orang asing maupun orang yang sudah dikenal.
Penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak mengenai "lingkaran kepercayaan".
Anak perlu tahu siapa saja orang dewasa yang bisa mereka mintai pertolongan saat merasa terancam.
"Jangan lupa untuk ajarkan mengenai hak anak untuk berkata tidak dan melapor pada orang dewasa yang terpercaya," tegas Devi.
Memasuki usia 10 tahun, materi harus mulai mencakup perubahan fisik dan emosional akibat pubertas. Orangtua berperan krusial dalam menjelaskan konsep persetujuan (consent) dan rasa hormat dalam hubungan.
"Terkait hal ini anak-anak pun perlu diajarkan mengenai konsep relasi sehat, rasa hormat, dan persetujuan (consent), serta risiko kekerasan seksual, perundungan, serta keamanan di dunia digital," lanjutnya.
Melalui edukasi yang dimulai tepat waktu, anak tidak hanya mengenal tubuhnya, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga kedaulatan dirinya di lingkungan sosial maupun digital.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Jarak struktur bangunan yang tidak terlalu menempel pada lereng menjadi faktor kunci minimnya dampak fatal.
Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah pengungsi mulai menunjukkan tren penurunan seiring dengan surutnya genangan di beberapa wilayah.
Polisi mendalami dugaan penelantaran anak dalam kasus balita jatuh dari balkon rumah kontrakan di Jatinegara. Anak diduga hanya diasuh kakaknya.
Seorang balita berusia tiga tahun terjatuh dari balkon lantai dua rumah kontrakan di Jatinegara, Jakarta Timur, dan mengalami luka di bagian dagu.
Pendekatan menu berbasis pangan lokal juga sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas gizi sekaligus memberdayakan masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved