Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah derasnya arus informasi yang tidak tersaring di media sosial, peran orangtua dalam memberikan pendidikan seksual sejak dini kini menjadi semakin krusial.
Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging dari Universitas Udayana, Prof. Wimpie Pangkahila, menegaskan bahwa edukasi ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Menurut Prof. Wimpie, keluarga adalah benteng pertama bagi anak agar tidak terjebak dalam informasi yang keliru dan menyesatkan. Kehadiran orangtua secara fisik dan emosional sangat diperlukan untuk mendampingi tumbuh kembang anak yang kini terpapar teknologi setiap harinya.
“Karena itu orangtua jangan meninggalkan anak, apalagi tiap hari anaknya nonton media sosial. Jadi pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu, berikan penjelasan kepada anaknya,” ujar Prof. Wimpie dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Jumat (16/1)
Edukasi seksual tidak selalu harus bersifat formal dan berat. Prof. Wimpie menyarankan orangtua untuk memanfaatkan momen sehari-hari. Misalnya, saat memandikan anak laki-laki, orangtua dapat memperhatikan apakah organ kelamin mereka tumbuh secara normal dibandingkan rekan seusianya.
Pada anak perempuan, pendekatan bisa dilakukan secara tidak langsung melalui diskusi mengenai perubahan fisik, seperti munculnya jerawat atau pertanyaan seputar siklus menstruasi. Hal-hal sederhana ini memungkinkan orangtua mendeteksi dini jika ada kejanggalan dalam perkembangan fisik anak.
“Di situ dari pengalaman saya banyak sekali orangtua memperhatikan itu, 'Kok anak saya ini enggak tumbuh-tumbuh misalnya penisnya, kok kecil dibandingkan teman-teman seumurnya?'. Itu salah satu cara yang sederhana sebetulnya yang bisa dilakukan orangtua,” tuturnya.
Terkait orientasi seksual, Prof. Wimpie menjelaskan adanya keterlibatan faktor bawaan sejak lahir maupun pengaruh lingkungan.
Ia menekankan bahwa perilaku yang terbentuk karena interaksi lingkungan, seperti pengaruh pergaulan di tempat kos atau kelompok tertentu, bisa menjadi pemicu munculnya hubungan sesama jenis meskipun individu tersebut tampak biasa saja dalam kesehariannya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa keharmonisan rumah tangga memegang peranan vital dalam perkembangan psikologis anak. Konflik atau kekerasan dalam keluarga yang disaksikan anak sejak kecil berpotensi menimbulkan trauma dan tekanan psikologis yang memengaruhi identitas seksual mereka.
"Mungkin waktu kecil si anak itu melihat bapaknya melakukan kekerasan terhadap ibunya sehingga dia merasa 'aku harus membela ibu, aku sama dengan ibu'. Karena itu dalam mendidik anak, keharmonisan keluarga harus diperhatikan,” jelasnya.
Sebagai penutup, Prof. Wimpie memberikan saran praktis bagi orangtua untuk menjaga stabilitas emosional anak. Jika terjadi perselisihan, sebaiknya orangtua tidak menunjukkannya di depan anak.
Menjaga suasana rumah yang kondusif adalah kunci utama agar anak dapat tumbuh dalam kondisi yang benar-benar normal dan sehat secara psikis. (Ant/Z-1)
Orangtua juga perlu berdialog dengan anak agar mereka dapat berpikir kritis dan mempertanggungjawabkan sikap mereka.
Pendidikan seksual sudah bisa diberikan sejak anak berusia sekitar dua atau tiga tahun.
Pendidikan seksual, sudah bisa dilakukan sejak anak berusia sekitar dua atau tiga tahun. Pada usia ini, anak mulai mengenal dan memahami nama-nama organ tubuh, termasuk alat kelamin.
Topik ini sering kali dianggap tabu dan orang dewasa kesulitan menemukan “pintu masuk” saat memulai diskusi dengan anak.
Bagi remaja yang sudah menikah bisa saja mengakses alat kontrasepsi di Puskesmas bila mereka membutuhkan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved