Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Urgensi Edukasi Seksual Dini, Peran Keluarga dalam Membentuk Identitas Anak

Basuki Eka Purnama
16/1/2026 11:27
Urgensi Edukasi Seksual Dini, Peran Keluarga dalam Membentuk Identitas Anak
Ilustrasi(Freepik)

DI tengah derasnya arus informasi yang tidak tersaring di media sosial, peran orangtua dalam memberikan pendidikan seksual sejak dini kini menjadi semakin krusial. 

Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging dari Universitas Udayana, Prof. Wimpie Pangkahila, menegaskan bahwa edukasi ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.

Menurut Prof. Wimpie, keluarga adalah benteng pertama bagi anak agar tidak terjebak dalam informasi yang keliru dan menyesatkan. Kehadiran orangtua secara fisik dan emosional sangat diperlukan untuk mendampingi tumbuh kembang anak yang kini terpapar teknologi setiap harinya.

“Karena itu orangtua jangan meninggalkan anak, apalagi tiap hari anaknya nonton media sosial. Jadi pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu, berikan penjelasan kepada anaknya,” ujar Prof. Wimpie dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Jumat (16/1)

Pendekatan Sesuai Usia

Edukasi seksual tidak selalu harus bersifat formal dan berat. Prof. Wimpie menyarankan orangtua untuk memanfaatkan momen sehari-hari. Misalnya, saat memandikan anak laki-laki, orangtua dapat memperhatikan apakah organ kelamin mereka tumbuh secara normal dibandingkan rekan seusianya.

Pada anak perempuan, pendekatan bisa dilakukan secara tidak langsung melalui diskusi mengenai perubahan fisik, seperti munculnya jerawat atau pertanyaan seputar siklus menstruasi. Hal-hal sederhana ini memungkinkan orangtua mendeteksi dini jika ada kejanggalan dalam perkembangan fisik anak.

“Di situ dari pengalaman saya banyak sekali orangtua memperhatikan itu, 'Kok anak saya ini enggak tumbuh-tumbuh misalnya penisnya, kok kecil dibandingkan teman-teman seumurnya?'. Itu salah satu cara yang sederhana sebetulnya yang bisa dilakukan orangtua,” tuturnya.

Faktor Lingkungan dan Psikologis

Terkait orientasi seksual, Prof. Wimpie menjelaskan adanya keterlibatan faktor bawaan sejak lahir maupun pengaruh lingkungan. 

Ia menekankan bahwa perilaku yang terbentuk karena interaksi lingkungan, seperti pengaruh pergaulan di tempat kos atau kelompok tertentu, bisa menjadi pemicu munculnya hubungan sesama jenis meskipun individu tersebut tampak biasa saja dalam kesehariannya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa keharmonisan rumah tangga memegang peranan vital dalam perkembangan psikologis anak. Konflik atau kekerasan dalam keluarga yang disaksikan anak sejak kecil berpotensi menimbulkan trauma dan tekanan psikologis yang memengaruhi identitas seksual mereka.

"Mungkin waktu kecil si anak itu melihat bapaknya melakukan kekerasan terhadap ibunya sehingga dia merasa 'aku harus membela ibu, aku sama dengan ibu'. Karena itu dalam mendidik anak, keharmonisan keluarga harus diperhatikan,” jelasnya.

Sebagai penutup, Prof. Wimpie memberikan saran praktis bagi orangtua untuk menjaga stabilitas emosional anak. Jika terjadi perselisihan, sebaiknya orangtua tidak menunjukkannya di depan anak. 

Menjaga suasana rumah yang kondusif adalah kunci utama agar anak dapat tumbuh dalam kondisi yang benar-benar normal dan sehat secara psikis. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya