Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Memahami Perbedaan Stunting dan Stunted: Bukan Sekadar Tubuh Pendek

Basuki Eka Purnama
19/3/2026 12:13
Memahami Perbedaan Stunting dan Stunted: Bukan Sekadar Tubuh Pendek
Ilustrasi(Freepik)

MASIH banyak orangtua yang beranggapan bahwa semua anak bertubuh pendek pasti mengalami gangguan gizi. Padahal, secara medis, terdapat perbedaan mendasar antara kondisi stunting dengan anak yang sekadar memiliki tubuh pendek atau stunted.

Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, membedah perbedaan signifikan di antara keduanya. 

Menurut Ian, kunci pembeda utamanya terletak pada penyebab dan asupan nutrisi sang anak.

Akar Masalah: Nutrisi vs Genetik

Ian menjelaskan bahwa stunting merupakan dampak dari kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini biasanya dipicu oleh asupan makanan yang tidak mencukupi atau adanya penyakit penyerta yang menguras energi anak.

Akibat kekurangan gizi tersebut, tinggi badan anak menjadi lebih rendah dibandingkan rata-rata anak seusianya. 

Ian menekankan bahwa pada kondisi stunting, tubuh gagal mengalokasikan nutrisi untuk pertumbuhan karena harus berfokus pada upaya pemulihan kesehatan.

"Nutrisinya enggak cukup, itu bukan buat naikkin berat badan dan tinggi badan melainkan malah dipakai buat hal yang penyakit tadi. Jadi berhubungan sama nutrisi yang masuk sama bagaimana si tubuh itu mengutilisasi dari energinya," ujar dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Di sisi lain, kondisi stunted atau tubuh pendek tidak selalu berkaitan dengan masalah nutrisi. Faktor-faktor di luar pola makan memegang peranan penting dalam kondisi ini.

"Stunted itu berhubungan sama mungkin genetik, orangtuanya keduanya pendek, mungkin ada gangguan hormon, mungkin ada sindrom-sindrom tertentu itu yang bikin dia pendek, tapi itu tidak berhubungan dengan nutrisi," jelasnya lebih lanjut.

Pentingnya Pemantauan Kurva Pertumbuhan

Mengingat stunting masih menjadi tantangan kesehatan yang serius di Indonesia, Ian mengingatkan para orangtua untuk tidak lengah. Pencegahan terbaik adalah dengan melakukan deteksi dini melalui pemantauan kurva pertumbuhan anak secara disiplin sejak lahir.

Langkah ini penting agar penyimpangan pertumbuhan dapat dideteksi sebelum menjadi masalah yang lebih berat. Ia menyarankan para orangtua untuk rutin melakukan konsultasi ke tenaga medis, terutama pada periode emas pertumbuhan anak.

"Cara kita mengatasi stuntingnya adalah kita harus memantau kurva pertumbuhan yang penting. Setiap bulan tetap harus ke dokter anak sampai satu tahun, sekalian vaksin, cek tumbuh kembangnya," tutup Ian.

Melalui pemahaman yang tepat mengenai perbedaan ini, diharapkan orangtua bisa lebih proaktif dalam mencukupi kebutuhan gizi anak serta rutin memeriksakan kondisi fisik buah hati guna mencegah risiko gangguan pertumbuhan permanen di masa depan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik