Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Figur Dewasa yang Tepat: Kunci Membentuk Karakter Empatik Anak di Tengah Keluarga Kurang Ideal

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 15:57
Figur Dewasa yang Tepat: Kunci Membentuk Karakter Empatik Anak di Tengah Keluarga Kurang Ideal
Ilustrasi(Freepik)

LINGKUNGAN keluarga yang harmonis sering kali dianggap sebagai syarat mutlak untuk membentuk kepribadian anak yang hangat, peduli, dan penuh empati. Namun, realitanya tidak semua anak tumbuh dalam kondisi ideal. 

Kabar baiknya, anak-anak yang berada dalam situasi keluarga kurang harmonis tetap memiliki peluang besar untuk mengembangkan karakter positif tersebut.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi UI, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menjelaskan bahwa faktor penentu utamanya bukanlah kesempurnaan struktur keluarga, melainkan kehadiran setidaknya satu figur dewasa yang konsisten memberikan dukungan emosional. Figur ini tidak harus orangtua inti, melainkan bisa berasal dari lingkungan sosial yang lebih luas.

Peran Figur Signifikan

Menurut Vera, kehadiran sosok dewasa yang peduli dan kompeten dalam pengasuhan dapat menjadi fondasi kuat bagi perkembangan empati anak. Sosok ini bisa saja seorang guru, kakek-nenek, saudara, atau anggota lingkungan sosial lainnya yang suportif.

"Banyak anak juga berkembang menjadi pribadi yang hangat karena dipengaruhi oleh figur signifikan lain dalam hidupnya, seperti guru, kakek-nenek, saudara atau lingkungan sosial yang suportif. Paling penting adalah anak memiliki setidaknya satu figur dewasa yang peduli, kompeten dalam pengasuhan anak, dapat memberikan rasa aman, dukungan dan penerimaan secara konsisten," ujar Vera, dikutip Rabu (18/3).

Rasa Aman sebagai Fondasi Empati

Karakter yang hangat biasanya berakar dari rasa aman secara emosional. Ketika seorang anak merasa diterima, dihargai, dan dicintai apa adanya, meskipun dukungan dari keluarga intinya tidak sempurna, ia akan lebih mudah memupuk rasa peduli terhadap sesama.

Penerimaan tanpa syarat ini menjadi modal bagi anak untuk belajar memahami perasaan orang lain. Vera menekankan bahwa empati adalah hasil dari proses mencontoh atau imitasi dari apa yang mereka rasakan sendiri.

"Karakter anak yang hangat dan peduli biasanya tumbuh dari lingkungan yang memberikan rasa aman secara emosional. Anak yang merasa diterima, dihargai, dan dicintai apa adanya akan lebih mudah mengembangkan empati terhadap orang lain," jelas Vera.

Praktik Empati dalam Pengasuhan

Lebih lanjut, Vera memaparkan bahwa anak yang terbiasa diperlakukan secara empatik akan secara otomatis menerapkan perilaku serupa kepada orang lain. 

Salah satu bentuk nyata perlakuan empatik dari figur dewasa adalah kesediaan untuk mendengar dan memahami perasaan anak secara mendalam. 

Dengan pendekatan yang tepat dan kehadiran figur yang suportif, keterbatasan kondisi keluarga bukan lagi penghalang bagi anak untuk tumbuh menjadi sosok yang penuh kasih dan bermanfaat bagi lingkungannya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik