Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH yang tampak sepele di mata orang dewasa bisa jadi merupakan beban hidup yang luar biasa berat bagi seorang anak.
Psikiatri Konsultan Anak-Remaja dari RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Widi Primaciptadi, Sp.KJ Subsp. AR(K), mengingatkan para orang dewasa untuk berhenti mengucapkan kalimat yang meremehkan saat anak sedang menghadapi persoalan.
Dalam sebuah webinar daring di Jakarta, dikutip Selasa (17/2), Widi menyoroti kebiasaan orang dewasa yang sering merespons keluhan anak dengan logika rasional yang dingin.
Kalimat-kalimat seperti "itu cuma masalah kecil", "nanti juga lupa", atau "jangan lebay" justru dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis anak.
“Karena sering kali orang dewasa ini suka meresponsnya dengan kalimat yang rasional ‘itu cuma masalah kecil aja, nanti juga lupa, jangan lebay’. Padahal buat anak itu bukan kecil, itu bisa terasa sangat nyata dan sangat besar,” ujar Widi.
Widi menegaskan bahwa orang dewasa tidak bisa menyamakan standar persepsi mereka dengan cara anak menyikapi masalah.
Perbedaan mendasar terletak pada sistem regulasi emosi anak yang belum matang. Hal yang dianggap ringan oleh orangtua bisa terasa menghancurkan bagi anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Menurutnya, risiko keinginan mengakhiri hidup pada anak sering kali bukan dipicu oleh kejadian itu sendiri, melainkan bagaimana anak memaknai kejadian tersebut di tengah keterbatasan emosionalnya.
“Masalah teman sebaya, konflik keluarga, tuntutan akademik kadang kala terlihat kecil bagi orang dewasa tapi jika tekanan bertemu dengan sistem regulasi yang belum matang dan identitas diri yang masih berkembang dampaknya bisa menjadi sangat besar,” jelasnya.
Stres pada anak sering kali tidak muncul secara dramatis atau mendadak, melainkan melalui akumulasi tekanan yang berkembang perlahan.
Widi mengimbau orang dewasa untuk peka terhadap perubahan perilaku yang konsisten, sekecil apa pun itu.
Pada anak yang lebih muda, tanda-tandanya bisa muncul lebih halus, seperti gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai.
“Sering kali orang dewasa menganggap, ‘oh ini memang lagi fasenya saja’, ‘namanya juga anak-anak lagi capek saja, lagi sensitif’. Padahal yang penting bukan satu kejadian, yang penting adalah pola dan konsistensi,” tambah Widi.
Munculnya sikap tertutup, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, serta sifat yang mendadak mudah marah atau tersinggung merupakan alarm penting sebelum risiko percobaan bunuh diri muncul.
Sebagai langkah preventif, Widi menekankan bahwa tugas utama orang tua adalah membangun sistem perlindungan melalui pemahaman dan validasi perasaan. Orangtua diharapkan tidak bersikap paranoid, namun tetap peka terhadap perubahan pola perilaku anak.
Membangun percakapan rutin tanpa membandingkan anak dengan orang lain adalah kunci. Dengan memvalidasi perasaan mereka, rumah dan sekolah dapat bertransformasi menjadi ruang aman yang mampu menahan tekanan stres sebelum meledak menjadi tindakan fatal. (Ant/Z-1)
Psikolog Michelle Brigitta membagikan tips mengatasi post holiday blues pada anak, mulai dari validasi emosi hingga mengatur ulang rutinitas harian.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Psikolog Michelle Brigitta membagikan tips mengatasi post holiday blues pada anak, mulai dari validasi emosi hingga mengatur ulang rutinitas harian.
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved