Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR psikologi anak, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menekankan bahwa peran aktif orangtua adalah kunci keberhasilan dalam membatasi akses anak terhadap perangkat digital.
Menurutnya, aturan pembatasan tidak akan berjalan efektif jika orangtua tidak memberikan contoh nyata di rumah.
Prof. Rose Mini menjelaskan bahwa anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Konflik pesan akan terjadi jika orang tua melarang anak bermain ponsel, namun mereka sendiri tidak bisa lepas dari gawai.
"Orangtua adalah contoh bagi anak. Jangan minta anak tidak banyak menggunakan gadget kalau orangtuanya sendiri tidak bisa lepas dari handphone," ujarnya, dikutip Selasa (31/3).
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan oleh orangtua saat berada di rumah dapat menutup ruang komunikasi dengan anak.
Kondisi ini membuat anak merasa tidak memiliki akses untuk berinteraksi, yang akhirnya mendorong mereka kembali pelarian ke dunia digital.
"Ketika orangtua di rumah tapi waktunya diambil oleh *handphone*, kapan waktu untuk anak?" tuturnya.
Agar pembatasan akses digital tidak memicu perlawanan atau kebingungan pada anak, Prof. Rose Mini menyarankan orang tua untuk lebih kreatif dalam menghadirkan alternatif kegiatan. Tanpa adanya aktivitas pengganti, anak akan sulit menyesuaikan diri.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
Meskipun regulasi atau aturan pembatasan platform digital tersedia untuk membantu, tanggung jawab utama dalam membimbing anak tetap berada di tangan orangtua. Peran aktif ini sangat krusial untuk mencegah dampak buruk gawai terhadap kesehatan fisik dan mental anak.
"Regulasi itu membantu orangtua. Tapi yang membimbing tetap orang tua. Mereka harus kreatif dan konsisten," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
Bagi orangtua yang sibuk bekerja, meluangkan waktu singkat namun intensif jauh lebih bermanfaat bagi keterikatan emosional (emotional attachment) anak.
Sejumlah orangtua pun mendukung PP Tunas, salah satunya Mia Santani, 36. Namun ada sejumlah catatan.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
ANAK yang terbiasa mengandalkan gawai dalam kehidupan sehari-hari berisiko menunjukkan reaksi emosional berlebihan (tantrum) saat penggunaannya dibatasi oleh orangtua.
PP TUNAS adalah jawaban atas kekhawatiran kalangan medis terhadap dampak negatif media sosial bagi tumbuh kembang anak.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved