Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA menyaksikan peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern: seorang pemimpin negara berdaulat, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dieksekusi dari udara pada subuh 28 Februari 2026 di tengah perundingan diplomatik yang masih berjalan. Serangan brutal itu dilakukan Amerika Serikat dan Israel yang melancarkan serangan terhadap Iran dalam operasi perang yang dikenal sebagai Operation Epic Fury.
Dalam perundingan yang dimediasi oleh Oman pada Februari 2026, delegasi Iran bahkan telah menyatakan kesediaan untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya dan menerima verifikasi penuh dari IAEA (International Atomic Energy Agency). Ini menjadi terobosan diplomatik yang oleh Menteri Luar Negeri Oman disebut sebagai momen ketika perdamaian ‘sudah dalam jangkauan tangan’.
Namun, alih-alih menyambut pintu yang terbuka itu, Amerika Serikat dan Israel justru memilih perubahan strategi fundamental: dari operasi penghancuran infrastruktur nuklir menjadi serangan ‘pemenggalan kepala’ (decapitation strike) terhadap pemimpin tertinggi Iran—sebuah langkah yang menghancurkan semua jalur diplomatik dan menjerumuskan kedua belah pihak ke dalam perang atrisi tanpa jalan keluar.
Dalam 22 hari pertama konflik, serangan menjalar ke setidaknya 12 negara. Selat Hormuz—nadi pengiriman 20% pasokan minyak dunia—ditutup secara efektif, dan lebih dari 2.300 orang tewas. Harga energi melonjak ke level tertinggi sejak September 2023, sementara serangan Iran menyasar instalasi militer Amerika di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.
Yang jauh lebih mencengangkan bagi para analis Barat ialah fakta sederhana: Iran tidak runtuh. Sistem pemerintahannya tetap beroperasi. Rudal dan drone terus diluncurkan. Di balik ketangguhan Iran itu semua terdapat warisan intelektual dan jejak pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Selain terkenal dengan pemikiran dan sikap anti-imperialismenya, Bung Karno juga menggagas konsep Trisakti sebagai antitesis dari bekerjanya imperialisme di banyak negara.
KHAMENEI DAN AJARAN BUNG KARNO
Sejarah menyimpan pertemuan yang tidak banyak orang ketahui: pada pertengahan 1970-an, di sel nomor 14 penjara rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi, seorang ulama muda bernama Ali Khamenei berbagi ruang dengan seorang tahanan sosialis. Kisah itu terabadikan dalam memoar Khamenei bertajuk Cell No. 14 (2021), yang menceritakan bagaimana ia mencoba mencairkan ketegangan ideologis dengan seorang pemuda komunis yang hampir menolak berbicara kepada dirinya— bahkan hampir tidak mau makan.
Khamenei memilih tidak berdebat melalui dalil teologis. Ia justru menyebut sebuah nama agar pemuda ini mau berbicara dengannya. Nama tersebut ialah Soekarno. "Tahukah kamu bahwa Presiden Soekarno dari Indonesia pernah mengatakan pada Konferensi Bandung bahwa dasar persatuan negara-negara berkembang bukanlah kesamaan agama, sejarah, atau budaya, melainkan 'kesatuan kebutuhan'?" ujarnya, mengutip pidato Konferensi Asia-Afrika 1955.
Kalimat itu bukan sekadar retorika penjara. Ia mencerminkan kerangka berpikir yang membentuk cara Khamenei memahami perlawanan terhadap imperialisme—kerangka yang dibangun Soekarno bukan hanya dengan senjata, melainkan dengan konsep dan strategi.
Sejumlah pengamat melihat kesamaan mendasar antara konsep Trisakti Bung Karno dan kebijakan strategis Iran di bawah Khamenei. Trisakti, secara eksplisit dikumandangkan Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1964 berjudul Tahun Vivere Pericoloso, merumuskan tiga sakti kemerdekaan sejati: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Trisakti adalah antitesis kolonialisme, imperialisme, dan feodalisme—Bung Karno memahami kemerdekaan bukan sekadar pernyataan hukum, melainkan ‘keadaan jiwa yang hidup, bersifat dinamis, dan berdiri di atas kaki sendiri’.
Titik temu antara Soekarno dan Khamenei terletak pada satu keyakinan yang sama bahwa bangsa-bangsa yang pernah dijajah hanya bisa menemukan martabatnya kembali melalui kemandirian struktural, bukan dengan bergantung pada kekuasaan negara adikuasa. Bagi Khamenei muda, pertemuan dengan pemikiran Bung Karno membuka cakrawala bahwa Presiden Indonesia itu bukan sekadar pemimpin bangsa Indonesia, melainkan arsitek dekolonisasi global yang meleburkan semangat nasionalisme ke dalam internasionalisme.
Soekarno, bersama Jawaharlal Nehru (India), Gammal Abdul Nasser (Mesir), dan Josip Broz Tito (Yugoslavia), mendirikan Gerakan Non-Blok 1961 yang menolak menjadikan negara berkembang sebagai pion Perang Dingin. Khamenei, dalam versi teologis Syiah-nya, mewarisi logika yang sama: menolak tunduk dan menolak menjadi satelit negara adikuasa.
Konsep Resistance Economy, tulang punggung kebijakan ekonomi Iran di bawah Khamenei—yang menekankan kemandirian nasional melalui penguatan produksi dalam negeri, kedaulatan pangan, dan pengembangan teknologi—secara substantif selaras dengan semangat berdikari dalam Trisakti Bung Karno. Keduanya lahir dari penolakan terhadap ketergantungan ekonomi sebagai instrumen penundukan politik.
BERDIKARI DENGAN RUDAL
Selama lebih dari empat dekade, sanksi ekonomi Amerika Serikat dan Barat dipasang untuk melumpuhkan Iran. Hasilnya justru paradoks: sanksi mendorong Teheran untuk bangkit dan berinovasi, bukan menyerah.
Di tengah embargo ketat, Iran membangun gudang senjata rudal balistik terbesar di Timur Tengah—pencapaian yang memaksa para analis geopolitik mengakui bahwa tekanan luar justru memperkuat ketahanan nasional.
Akar kemandirian ini dapat ditelusuri ke tahun 1982, saat Iran meluncurkan apa yang disebut Jihad Swasembada. Perang Iran-Irak (1980–1988) membuat Iran kesulitan memperoleh suku cadang alutsista buatan Barat warisan era Shah. Strategi rekayasa balik (reverse engineering), inovasi lokal, dan penguatan industri dalam negeri dijadikan doktrin pertahanan nasional.
Dari sinilah lahir konsep enforced autonomy—kemandirian yang dipaksa sejarah, bukan pilihan karena kemewahan. Pelajaran utamanya ialah pembangunan industri pertahanan bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan proyek nasionalisme jangka panjang yang menuntut konsistensi lintas rezim dan lintas generasi serta kesabaran revolusioner.
Hasilnya kini berbicara sendiri di medan perang. Iran memiliki cadangan minyak 208,6 miliar barel pada 2025, memproduksi sekitar 4,63 juta barel per hari, dan dengan total PDB sebesar US$356,5 miliar—menjadikannya salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Timur Tengah meski dihantam sanksi puluhan tahun.
Lebih dari sekadar minyak, kekuatan militer Iran dibangun dengan pendekatan asimetris: anggaran pertahanan relatif kecil, tapi menghasilkan drone Shahed yang mampu menekan negara-negara yang jauh lebih kaya secara finansial.
Ketika serangan AS-Israel mengguncang Teheran pada 28 Februari 2026, respons masyarakat Iran justru paradoks—bukan muncul niat untuk meruntuhkan rezim, melainkan kebangkitan solidaritas kebangsaan yang memisahkan antara ‘negara’ dan ‘rezim’ di tengah agresi asing. Nasionalisme dan patriotisme terbukti menjadi perisai terakhir saat perisai baja runtuh.
Ini persis yang diramalkan Bung Karno dalam konsep sosio-nasionalismenya bahwa perlawanan terhadap imperialisme hanya bisa bertahan jika berakar pada kesadaran rakyat, bukan sekadar pada kekuatan aparat. Iran terbukti berhasil membangun dan membentuk nation and character building bangsanya sendiri.
Dalam cahaya ini, Iran bukan sekadar kisah tentang perang. Ia adalah kisah bangsa yang memilih jalan Trisakti dengan caranya sendiri—berdaulat dalam politik meski dikepung isolasi diplomatik, berdikari dalam ekonomi dan teknologi meski dihujani sanksi, dan berkepribadian dalam kebudayaannya yang menolak ditaklukkan.
Bahwa sebagian dari pilihan itu terinspirasi oleh seorang proklamator dari Indonesia yang berbicara di Bandung 1955 adalah salah satu ironi paling menarik dalam sejarah intelektual abad ke-19. Sebuah gagasan yang tumbuh jauh melampaui batas geografis negara yang melahirkannya, mekar dalam sel penjara seorang ulama Persia bernama Ali Khamenei, dan kini termanifestasi dalam ketangguhan sebuah bangsa yang tidak mau berlutut.
Berdasarkan pengalaman bangsa Iran, ajaran Trisakti Bung Karno dan pemikiran-pemikiran Bung Karno lainnya bukanlah gagasan yang utopis. Gagasan dan ide Bung Karno selalu relevan dan mengikuti setiap konteks zamannya asalkan bangsa tersebut mau sungguh-sungguh dan konsisten menjalankannya.
Pertanyaan mendasar bagi kita ialah, jika bangsa Iran saja mampu mempraktikkan ajaran Trisakti Bung Karno, bagaimana dengan pemerintah dan bangsa Indonesia saat ini?
FBI selidiki Joe Kent terkait dugaan kebocoran informasi rahasia. Kent sebut pembunuhan Ali Khamenei oleh AS-Israel adalah kesalahan fatal.
Eks Kepala Kontraterorisme AS Joe Kent mengungkap fakta mengejutkan pasca-mundur. Ia menyebut tak ada intelijen soal serangan Iran dan adanya pembungkaman suara kritis.
Penasihat militer Iran prediksi perang lawan AS berakhir sebelum 21 Maret. Apa itu Nowruz dan mengapa menjadi simbol perdamaian bagi Iran? Simak detailnya di sini.
Mojtaba kemungkinan terluka dalam serangan udara di Teheran pada hari pertama perang. Serangan tersebut membuat ayahnya Ali Khamenei gugur.
Konflik di Libanon memanas setelah Hizbullah menyerang Israel sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved