Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Joe Kent Bongkar Borok Perang Iran: Sebut Intelijen Dibungkam dan Tak Ada Ancaman 9/11

Thalatie K Yani
19/3/2026 07:31
Joe Kent Bongkar Borok Perang Iran: Sebut Intelijen Dibungkam dan Tak Ada Ancaman 9/11
Eks Kepala Kontraterorisme AS Joe Kent mengungkap fakta mengejutkan pasca-mundur. Ia menyebut tak ada intelijen soal serangan Iran dan adanya pembungkaman suara kritis.(The Tucker Carlson)

JOE Kent, mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, meluncurkan kritik tajam terhadap pemerintahan Trump terkait perang dengan Iran. Dalam wawancara perdana pasca-pengunduran dirinya, Kent menyebut adanya upaya sistematis untuk membungkam suara kritis di internal intelijen sebelum konflik meletus.

Kepada podcaster konservatif Tucker Carlson, Kent mengungkapkan perbedaan mencolok antara serangan ke situs nuklir Iran tahun lalu dengan eskalasi saat ini. Menurutnya, jika dulu terdapat "debat yang kuat", kali ini kemampuan komunitas intelijen untuk memberikan penilaian objektif atau sanity check justru ditekan.

“Menjelang iterasi terakhir ini, sejumlah besar pengambil keputusan utama tidak diizinkan datang dan menyampaikan pendapat mereka kepada presiden,” ujar Kent pada Rabu (18/3/2026). Ia menambahkan  diskusi dilakukan di balik pintu tertutup tanpa memberi ruang bagi suara-suara yang berbeda pendapat.

Bantahan Atas "Ancaman Mendesak"

Pemerintahan Trump berulang kali menggunakan dalih "ancaman nuklir yang mendesak" sebagai dasar peluncuran serangan. Namun, Kent secara tegas membantah adanya data intelijen yang mendukung narasi serangan mendadak berskala besar.

“Tidak ada intelijen yang mengatakan bahwa pada tanggal 1 Maret, misalnya, Iran akan meluncurkan serangan mendadak besar-besaran, semacam 9/11, Pearl Harbor, dan sebagainya. Tidak ada intelijen seperti itu,” tegas Kent. Ia menilai Iran adalah aktor yang sangat berhati-hati dalam menaiki tangga eskalasi.

Kent juga memberikan pandangan mengejutkan mengenai mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel bulan lalu. Menurutnya, Khamenei justru berperan sebagai penahan laju program senjata nuklir Iran.

“Saya bukan penggemar mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, namun, dia memoderasi program nuklir mereka. Dia mencegah mereka mendapatkan senjata nuklir,” kata Kent. Ia memperingatkan bahwa pembunuhan agresif terhadap tokoh tersebut justru akan membuat rakyat Iran bersatu mendukung rezim.

Kritik Terhadap Pengaruh Israel

Selain masalah intelijen, Kent secara terbuka menuding Israel telah menarik Amerika Serikat ke dalam konflik ini dan memengaruhi kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah secara luas. Ia mengkritik logika Sekretaris Negara Marco Rubio yang menyebut Iran sebagai ancaman karena diyakini akan membalas jika Israel menyerang.

“Jadi, ancaman mendesak yang dijelaskan oleh Sekretaris Negara bukan dari Iran. Itu dari Israel, tepatnya. Dan saya pikir ini berbicara pada masalah yang lebih luas, siapa yang memegang kendali atas kebijakan kita di Timur Tengah,” ujar Kent.

Pernyataan Kent dalam surat pengunduran dirinya sebelumnya telah memicu gelombang kecaman, termasuk dari Senator GOP Mitch McConnell yang melabeli komentar Kent sebagai tindakan antisemitisme yang keji. McConnell menyatakan bahwa Kent telah gagal memenuhi janjinya untuk memimpin dengan integritas.

Penangkapan dan penggeledahan terkait dokumen rahasia serta perselisihan politik di Washington diprediksi akan terus memanas seiring dengan kesaksian para pejabat intelijen di hadapan Senat. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik