Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Milisi Irak Umumkan Gencatan Senjata 5 Hari Terhadap Kedubes AS di Baghdad

Thalatie K Yani
19/3/2026 07:48
Milisi Irak Umumkan Gencatan Senjata 5 Hari Terhadap Kedubes AS di Baghdad
Milisi Kataib Hizbullah sepakati jeda serangan terhadap Kedubes AS di Baghdad dengan syarat ketat. Sementara itu, pasokan gas Iran ke Irak terhenti total.(Media Sosial X)

KELOMPOK milisi kuat yang didukung Iran di Irak, Kataib Hizbullah, mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad. Jeda serangan ini berlaku selama lima hari, terhitung sejak Kamis (19/3/2026), namun dengan serangkaian syarat ketat bagi AS dan Israel.

Keputusan ini diambil setelah Kedubes AS menghadapi rentetan serangan roket dan drone sejak perang dengan Iran meletus hampir tiga minggu lalu. Kataib Hizbullah memperingatkan mereka akan merespons dengan serangan yang "lebih intens" jika tuntutan mereka diabaikan.

Tuntutan dan Kondisi Gencatan Senjata

Sekretaris Jenderal Kataib Hizbullah menyatakan telah mengeluarkan perintah untuk menangguhkan operasi tersebut. Namun, kelompok yang dikategorikan Washington sebagai organisasi teroris ini menetapkan beberapa kondisi utama:

Penghentian serangan Israel terhadap warga sipil dan pengeboman di pinggiran selatan Beirut, Lebanon.

Penghentian serangan udara di daerah pemukiman di Baghdad dan provinsi Irak lainnya.

Pembatasan ruang gerak personel CIA, yang diminta untuk tetap berada di dalam kompleks kedutaan dan dilarang beroperasi di luar area tersebut.

"Kapan pun musuh melanggar gencatan senjata ini, respons akan diberikan segera," tegas pernyataan resmi kelompok tersebut, sembari memperingatkan adanya eskalasi serangan setelah periode lima hari berakhir.

Sejauh ini, sistem pertahanan udara AS dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar proyektil yang menargetkan kompleks diplomatik dan pusat logistik di Bandara Internasional Baghdad. Namun, ketegangan tetap tinggi setelah serangan udara di perbatasan Irak-Suriah pada Rabu kemarin menewaskan tiga pejuang dari aliansi Hashed al-Shaabi.

Krisis Energi Menghantam Irak

Di tengah ketegangan militer, Irak kini menghadapi ancaman kelumpuhan ekonomi. Pemerintah Irak mengonfirmasi bahwa impor gas dari Iran terhenti total pada Rabu waktu setempat. Penghentian ini menyusul kecaman Teheran atas serangan AS-Israel terhadap fasilitas gas mereka di ladang South Pars.

Juru bicara Kementerian Listrik Irak, Ahmed Moussa, menyatakan bahwa terhentinya pasokan gas ini mengakibatkan hilangnya daya listrik sebesar 3.100 megawatt. "Hal ini tentu akan berdampak pada jaringan listrik nasional," ujar Moussa kepada Kantor Berita Irak (INA).

Meski Irak memiliki cadangan minyak melimpah, pembangkit listrik mereka sangat bergantung pada gas impor dari Iran untuk memenuhi sepertiga kebutuhan nasional. Saat ini, sebagian besar rumah tangga di Irak terpaksa mengandalkan generator pribadi akibat pemadaman listrik harian yang semakin parah.

Ekspor Minyak yang Terseok

Irak mencoba mencari celah ekonomi dengan menyepakati ekspor minyak melalui pipa Turki di pelabuhan Ceyhan, setelah jalur utama di Selat Hormuz efektif ditutup oleh Iran. Namun, jumlah yang diekspor hanya sebesar 250.000 barel per hari, sangat kecil dibandingkan angka 3,5 juta barel sebelum perang pecah. Kondisi ini memperburuk penerimaan negara, mengingat penjualan minyak menyumbang 90 persen pendapatan luar negeri Irak. (CNN/AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik