Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah kecamuk perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, Presiden Donald Trump menunjukkan tanda-tanda panik menghadapi gejolak energi global yang dapat melumpuhkan ekonomi dunia. Dalam pernyataan terbaru di Florida, Senin (9/3), Trump mengumumkan rencana mengejutkan untuk mencabut sanksi terhadap sejumlah negara penghasil minyak guna menstabilkan harga yang sempat menyentuh AS$120 per barel.
Trump menyatakan bahwa relaksasi sanksi ini bersifat sementara hingga situasi pasar kembali stabil. "Kami memiliki sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai masalah ini selesai," ujar Trump.
“Kemudian, siapa tahu, mungkin kita tidak perlu memberlakukannya lagi – akan ada banyak perdamaian,” katanya.
Meskipun Trump tidak merinci negara mana yang akan mendapat keringanan, Washington saat ini diketahui memberlakukan sanksi ketat pada sektor minyak Rusia, Iran, dan Venezuela. Namun, laporan Reuters menyebutkan bahwa Rusia menjadi kandidat kuat dalam pertimbangan relaksasi ini untuk menjaga ketersediaan stok global.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu mengumumkan penangguhan sanksi selama 30 hari terhadap penjualan minyak Rusia ke India di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya tekanan pada pasokan global.
Meskipun harga Brent sedikit mereda ke level US$84 per barel pada Selasa (10/3) pascakomentar Trump, bayang-bayang krisis belum hilang. Homayoun Falakshahi, analis utama dari Kpler, memperingatkan bahwa harga bisa menembus rekor baru.
"Jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga April, harga bisa terus melonjak hingga US$150 atau bahkan US$200 per barel," tegas Falakshahi kepada Al Jazeera.
Pasar energi global telah berada dalam ketegangan sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, dengan harga minyak mentah melonjak hingga 50% dibandingkan sebelum konflik.
Ancaman Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, memaksa produsen utama di wilayah Teluk untuk mengurangi produksi di tengah penumpukan pasokan, karena pengiriman sebagian besar terhenti. (B-3)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kuat bahwa operasi militer terhadap Iran akan segera berakhir.
Senator AS Lindsey Graham ancam putus kerja sama pertahanan jika Arab Saudi menolak gabung perang Iran. Riyadh dan UEA tegaskan wilayahnya tak boleh dipakai menyerang.
Internal militer AS bergejolak setelah prajurit tolak penugasan ke Iran akibat tragedi sekolah Minab. Isu wajib militer mencuat menyusul mobilisasi besar-besaran.
Harga minyak mentah Brent jatuh dari level tertinggi empat tahun setelah Donald Trump memberi sinyal berakhirnya konflik di Iran dan rencana penguasaan Selat Hormuz.
Perang dengan Iran memicu lonjakan harga minyak global. Pemerintahan Trump kini kelabakan mencari cara meredam harga BBM yang mengancam ekonomi domestik AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved