Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Ketua Parlemen Iran Ejek Trump Soal Lonjakan Harga Minyak Dunia

Haufan Hasyim Salengke
09/3/2026 09:23
Ketua Parlemen Iran Ejek Trump Soal Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.(Tasnim)

KETUA Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, melontarkan sindiran tajam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ketidakstabilan pasar energi global. Qalibaf menilai Washington telah melakukan salah kalkulasi besar dalam agresi militernya terhadap Iran yang kini memicu lonjakan harga minyak mentah.

Melalui unggahan di akun X miliknya pada Minggu (8/3/2026), Qalibaf menyoroti pernyataan Trump yang berubah-ubah mengenai dampak ekonomi dari konflik ini. "Trump awalnya mengatakan harga minyak tidak akan naik banyak; sekarang setelah harga melonjak, dia bilang itu akan segera terkoreksi!" tulis Qalibaf.

Ia memperingatkan bahwa jika peperangan terus berlanjut, gangguan pada rantai produksi dan distribusi minyak tidak akan terhindarkan. Menurutnya, dampak ini tidak hanya akan merugikan Amerika Serikat, tetapi juga menghanguskan kepentingan negara-negara di kawasan dan dunia demi ambisi politik tertentu.

Melonjak hingga 20 Persen

Pasar energi global mengalami guncangan hebat menyusul eskalasi perang antara AS-Israel melawan Iran. Harga minyak mentah dunia meroket melampaui level psikologis US$100 per barel, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi jangka panjang di tengah konflik yang kian memanas.

Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi patokan internasional, sempat melonjak hingga 20% pada perdagangan Minggu (8/3), menyentuh angka US$111 per barel. Meskipun sempat mengalami moderasi tipis, harga Brent masih bertahan di kisaran US$107,50 pada perdagangan Senin (9/3) pagi.

Lonjakan ini menandai pertama kalinya harga minyak dunia menembus angka US$100 sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 silam. Para investor dan pelaku pasar bereaksi cepat terhadap risiko penutupan jalur logistik vital di Selat Hormuz serta potensi kerusakan infrastruktur migas di kawasan Teluk.

Kenaikan harga yang drastis ini diprediksi akan memberikan tekanan besar pada inflasi global dan harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hingga saat ini, pelaku pasar masih terus memantau perkembangan Operation Epic Fury dan potensi serangan balasan Iran yang dapat semakin memperburuk stabilitas distribusi energi global.

Eskalasi Pasca-Agresi

Konflik ini meletus sejak 28 Februari lalu, menyusul serangan besar-besaran AS dan Israel yang menargetkan infrastruktur militer serta sipil Iran hingga menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran telah melancarkan serangkaian operasi balasan menggunakan gelombang rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer AS serta posisi Israel di kawasan tersebut. Analis energi memperingatkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Tasnim/Al-Jazeera/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya