Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Pasar Saham Global Rontok: Harga Minyak Tembus US$100 Imbas Perang Iran

Thalatie K Yani
09/3/2026 07:37
Pasar Saham Global Rontok: Harga Minyak Tembus US$100 Imbas Perang Iran
Ilustrasi(freepik)

PASAR saham Australia terjun bebas pagi ini dengan penurunan tajam sebesar 3%, yang menghapus nilai pasar perusahaan-perusahaan terbesar negara tersebut hingga hampir US$90 miliar. Indeks acuan S&P/ASX200 merosot ke level 8.576,2 poin pada perdagangan awal, setelah ditutup pada posisi 8.851 pekan lalu.

Kepanikan pasar ini dipicu ekspektasi Amerika Serikat akan melanjutkan perang terhadap Iran. Konflik tersebut telah melumpuhkan pengiriman minyak dan mengirim harga energi melonjak drastis. Pagi ini, harga minyak global melampaui US$100 (Sekitar Rp1,7 juta) per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, kini bertengger di kisaran US$106 (Sekitar Rp1,8 juta) per barel.

Sektor Penerbangan dan Perbankan Terpukul

Hampir tidak ada sektor yang aman dari aksi jual ini. Sebanyak 186 dari 200 perusahaan top Australia mengalami penurunan nilai. Bank-bank besar turun masing-masing 3%, produsen logam jarang (rare earths) seperti Iluka dan Lynas merosot di atas 5%, sementara maskapai Qantas dan Virgin Airlines anjlok masing-masing 6%.

Satu-satunya emiten yang bertahan adalah mereka yang berada di sektor energi, seperti perusahaan gas Woodside serta pengecer bahan bakar Ampol dan Viva. Di sisi lain, gangguan ekonomi akibat perang ini membuat nilai dolar AS melonjak, yang berimbas pada jatuhnya dolar Australia ke bawah level 70 sen AS.

Wall Street Bersiap Hadapi Tekanan

Kondisi serupa terjadi di bursa berjangka Amerika Serikat. Kontrak berjangka Dow Jones jatuh 848 poin atau 1,79%, sementara Nasdaq 100 turun 1,9%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 18% ke atas US$107 per barel, kenaikan mingguan terbesar sejak kontrak ini mulai diperdagangkan pada tahun 1983.

Lonjakan ini terjadi setelah produsen utama di Timur Tengah memangkas output akibat penutupan jalur kunci Selat Hormuz. Irak dilaporkan mengalami penurunan produksi hingga 70%, sementara Kuwait juga mengumumkan pemotongan jumlah produksi.

Respons Politik dan Ketidakpastian Ekonomi

Presiden Donald Trump menanggapi santai gejolak ini melalui unggahan di media sosial pada Minggu malam. Ia menyebut kenaikan harga minyak jangka pendek adalah "harga yang sangat kecil untuk dibayar" demi menghancurkan ancaman nuklir Iran.

Trump mengklaim perang tersebut "sudah dimenangkan", terutama setelah munculnya laporan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung Iran yang baru. Namun, pasar tetap waspada karena durasi konflik masih sangat tidak pasti.

“Pasar jelas merasa gelisah karena dampak dan durasi perang di Timur Tengah sangat tidak pasti, dengan potensi rentang hasil yang luas bagi ekonomi,” tulis Rick Rieder, CIO BlackRock, dalam catatan kepada kliennya.

Bagi banyak analis di Wall Street, level minyak US$100 adalah titik kritis bagi ekonomi global. Jika perang tidak segera diselesaikan dan harga tidak segera turun, dikhawatirkan kenaikan biaya energi ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia secara dramatis. (The Guardian/CNBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya