Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Harga Minyak Dunia Tembus US$114, Bursa Asia Rontok

Thalatie K Yani
09/3/2026 10:22
Harga Minyak Dunia Tembus US$114, Bursa Asia Rontok
Ilustrasi(freepik)

PASAR finansial global mengalami guncangan hebat pada Senin (9/3) pagi saat harga minyak dunia melonjak drastis melewati level US$114 per barel. Eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Di pasar Asia, harga minyak mentah jenis Brent meroket hampir 24% ke posisi US$114,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI/Nymex) melonjak lebih dari 26% mencapai US$114,78 per barel. Lonjakan ini merupakan yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, dengan kenaikan mingguan mencapai 35%, rekor terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka sejak 1983.

Bursa Saham Asia Berguguran

Sentimen negatif ini menyeret bursa saham di kawasan Asia-Pasifik jatuh ke zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok lebih dari 7%, disusul Hang Seng Hong Kong yang merosot lebih dari 3%, dan ASX 200 Australia yang turun lebih dari 4%.

Kondisi paling parah dialami oleh indeks Kospi Korea Selatan yang merosot lebih dari 8%. Hal ini memicu pemberlakuan circuit breaker atau penghentian sementara perdagangan selama 20 menit guna meredam aksi jual panik (panic selling).

Blokade Selat Hormuz dan Pemangkasan Produksi

Selat Hormuz, yang biasanya dilintasi oleh seperlima pasokan minyak dunia, kini hampir lumpuh total. Tanker-tanker minyak enggan melintasi jalur sempit tersebut karena kekhawatiran akan serangan Iran. Kondisi ini membuat para produsen besar di Timur Tengah terpaksa memangkas produksi karena kehabisan ruang penyimpanan.

Irak: Produksi di tiga lapangan minyak utama selatan dilaporkan runtuh sebesar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari.
Kuwait: Mengumumkan pemangkasan produksi sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman keamanan kapal.
UEA: Mulai mengelola tingkat produksi lepas pantai untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan yang terbatas.

Suksesi Kepemimpinan Iran dan Respons Trump

Di tengah desingan peluru, Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Agung. Langkah ini menandakan bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali penuh atas negara tersebut.

Merespons lonjakan harga energi, Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa kenaikan harga minyak jangka pendek adalah harga yang pantas dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran.

"Kenaikan harga minyak jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi Keamanan dan Perdamaian Amerika Serikat serta Dunia. Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!" tulis Trump.

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright optimis bahwa lalu lintas di Selat Hormuz akan segera pulih setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker dihancurkan. Wright memprediksi pemulihan arus lalu lintas akan memakan waktu beberapa minggu, bukan berbulan-bulan. (BBC/CNBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya