Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Harga Minyak Dunia Tembus US$118 per Barel, Bahlil Pastikan Harga Pertalite tidak Naik

Media Indonesia
09/3/2026 13:37
Harga Minyak Dunia Tembus US$118 per Barel, Bahlil Pastikan Harga Pertalite tidak Naik
Ilustrasi(Dok Pertamina Patra Niaga)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite tetap stabil meskipun harga minyak dunia melonjak hingga US$118 per barel.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil untuk merespons kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan harga BBM di tengah gejolak pasar energi global.

"Sekali lagi saya pastikan, sampai dengan hari raya ini insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM subsidi. Untuk subsidi," ujar Bahlil ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, (9/3).

Ia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi, khususnya menjelang periode Ramadan dan Hari Raya Idulfitri yang biasanya diiringi peningkatan konsumsi energi masyarakat.

Selain memastikan harga tetap stabil, Bahlil juga menyampaikan bahwa ketersediaan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan langkah-langkah untuk menjamin distribusi energi tetap berjalan lancar selama masa puasa hingga Lebaran.

"Pasokan enggak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya Idulfitri semuanya terjamin, nggak ada masalah," ucap Bahlil.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena stok BBM dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Sementara itu, lonjakan harga minyak dunia terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan laporan Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil sempat menembus US$118 per barel, level tertinggi sejak 17 Juni 2022.

Kenaikan harga tersebut dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel yang berhadapan dengan Iran. Ketegangan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat tinggi militer.

Iran kemudian membalas dengan serangkaian serangan yang menargetkan pangkalan militer AS, fasilitas diplomatik, serta personel militer di berbagai wilayah kawasan tersebut, termasuk sejumlah kota di Israel.

Konflik juga berdampak pada infrastruktur energi Iran. Pada Minggu (8/3), AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di Teheran dan sekitarnya.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada beberapa fasilitas penyimpanan minyak, termasuk Depo Minyak Shahran. Ketegangan yang terus meningkat ini turut mendorong volatilitas harga minyak di pasar global. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya