Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
INTELIJEN Amerika Serikat menyebut Rusia diduga membagikan informasi kepada Iran yang berpotensi membantu Teheran menargetkan aset militer Amerika di kawasan Teluk.
Meski belum ada bukti Moskow mengarahkan penggunaan informasi tersebut, laporan ini memicu kekhawatiran baru di tengah perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Dua pejabat yang mengetahui laporan intelijen Amerika Serikat berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang mengomentari isu sensitif tersebut secara terbuka.
Mereka menegaskan hingga saat ini intelijen AS belum menemukan bukti Moskow secara langsung mengarahkan Iran. Bagaimana menggunakan informasi tersebut di tengah konflik yang terus berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Meski demikian, perkembangan ini menjadi indikasi awal Rusia berupaya terlibat dalam konflik yang dimulai sekitar sepekan lalu.
Moskow termasuk salah satu negara yang masih mempertahankan hubungan dekat dengan Teheran, yang selama bertahun-tahun menghadapi isolasi internasional terkait program nuklirnya serta dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah seperti Hezbollah, Hamas, dan Houthi movement.
Ketika ditanya mengenai laporan tersebut dalam sesi tanya jawab dengan media di Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump menegur seorang wartawan yang mengangkat isu tersebut.
"Saya sangat menghormati Anda, Anda selalu sangat baik kepada saya,” kata Trump kepada reporter Peter Doocy dari Fox News.
"Pertanyaan bodoh sekali yang diajukan saat ini. Kita sedang membicarakan hal lain," tambahnya.
Pejabat Gedung Putih berusaha meredam kekhawatiran terkait laporan tersebut, meskipun mereka tidak secara tegas membantah kemungkinan Rusia berbagi intelijen mengenai target Amerika di kawasan.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan laporan itu tidak memengaruhi jalannya operasi militer AS. "Jelas hal itu tidak membuat perbedaan apa pun terkait operasi militer di Iran karena kita benar-benar menghancurkan mereka," ujarnya kepada wartawan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS mengatakan bahwa militer Amerika memantau semua perkembangan terkait dukungan Rusia kepada Iran.
"Rakyat Amerika dapat yakin bahwa panglima tertinggi mereka sangat menyadari siapa yang berbicara dengan siapa," katanya.
"Dan apa pun yang seharusnya tidak terjadi, baik di depan umum maupun melalui jalur belakang, sedang ditangani dan ditangani dengan tegas," lanjutnya.
Leavitt menolak menjelaskan apakah Trump telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai laporan tersebut atau apakah Washington mempertimbangkan konsekuensi bagi Moskow.
Di Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan belum ada permintaan dari Iran untuk bantuan militer langsung dari Rusia.
"Kami sedang berdialog dengan pihak Iran, dengan perwakilan kepemimpinan Iran, dan tentu akan melanjutkan dialog ini," katanya kepada wartawan.
Namun ketika ditanya apakah Rusia telah memberikan bantuan intelijen atau militer kepada Teheran sejak konflik dimulai, Peskov menolak memberikan komentar lebih lanjut.
Hubungan Rusia dan Iran memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak Moskow mencari dukungan persenjataan untuk perang melawan Ukraina.
Pemerintahan AS sebelumnya menuduh Iran memasok drone serang kepada Rusia serta membantu pembangunan fasilitas produksi drone di wilayah Rusia.
Washington juga menuduh Teheran mengirimkan rudal balistik jarak pendek untuk digunakan dalam perang tersebut.
Informasi mengenai dugaan pertukaran intelijen antara Rusia dan Iran pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Amerika Serikat dan sejumlah negara Timur Tengah sedang mempertimbangkan kerja sama dengan Kyiv untuk menghadapi serangan drone Shahed buatan Iran.
Drone jenis tersebut sebelumnya digunakan Rusia dalam perang di Ukraina dan kini dilaporkan digunakan Iran dalam serangan balasan di kawasan Teluk.
Menurut Zelensky, Ukraina telah berdiskusi dengan beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait mengenai kemungkinan kerja sama tersebut.
"Ukraina tahu bagaimana cara bertahan melawan serangan pesawat tak berawak Shahed karena kota-kota kami telah menghadapinya hampir setiap malam," kata duta besar Ukraina untuk Amerika Serikat, Olga Stefanishyna.
"Ketika mitra kami membutuhkan bantuan, kami selalu siap membantu," ujarnya.
Di tengah perkembangan tersebut, Trump kembali menyinggung kebijakan pemerintahan sebelumnya terkait bantuan militer kepada Ukraina.
Ia mengkritik mantan Presiden Joe Biden karena dianggap memberikan miliaran dolar persenjataan canggih kepada Kyiv tanpa segera mengisi kembali cadangan militer Amerika. (Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved