Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Harga Minyak Mendekati US$120, Pemerintahan Trump Panik Hadapi Dampak Perang Iran

Thalatie K Yani
10/3/2026 04:57
Harga Minyak Mendekati US$120, Pemerintahan Trump Panik Hadapi Dampak Perang Iran
Ilustrasi(freepik)

PEMERINTAHAN Donald Trump mulai menunjukkan tanda-tanda panik seiring meroketnya harga minyak mentah dunia. Meski awalnya memprediksi lonjakan hanya akan berlangsung singkat, skala dan ketahanan reaksi pasar terhadap perang dengan Iran ternyata di luar kendali Gedung Putih.

Hanya dalam sepekan setelah perang pecah, harga minyak dunia sempat menyentuh angka US$120 per barel, level tertinggi sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Di tingkat domestik Amerika Serikat, harga rata-rata bahan bakar minyak (BBM) melonjak hingga 51 sen per galon dalam seminggu terakhir.

Limitasi Kekuasaan dan Ancaman Ekonomi

Situasi ini menempatkan Presiden Trump dalam posisi sulit. Ambisi militer di luar negeri kini mengancam pencapaian ekonomi domestik yang selama ini ia banggakan. Analis energi senior, Neil Atkinson, memperingatkan tekanan harga akan terus berlanjut. "Sulit untuk melihat apa pun kecuali tekanan kenaikan harga yang berkelanjutan. Masyarakat akan menderita di pompa bensin," ujarnya.

Lumpuhnya lalu lintas di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Jalur air kritis di lepas pantai Libanon tersebut biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, namun kini terhenti total. Perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko terkena tembakan balasan Iran setelah serangan AS dan Israel.

Opsi Darurat di Meja Oval

Pejabat senior AS, termasuk Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Keuangan Scott Bessent, menghabiskan waktu akhir pekan untuk menyusun langkah darurat. Opsi yang dipertimbangkan mulai dari pelonggaran regulasi produksi domestik, pembatasan ekspor, hingga intervensi langsung pada pasar berjangka minyak.

Meski demikian, Trump secara publik tetap berusaha mengecilkan dampak krisis ini. Melalui Truth Social, ia menyebut kenaikan harga BBM adalah "harga yang sangat kecil untuk dibayar" dan menambahkan, "HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR SEBALIKNYA!"

Senada dengan sang presiden, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menyatakan lonjakan ini bersifat sementara. "Ini adalah perubahan jangka pendek dalam harga minyak, yang akan turun drastis setelah tujuan dari Operasi Epic Fury tercapai," tegasnya.

Langkah Militer Jadi Solusi Terakhir?

Di balik layar, para pejabat mulai mempertimbangkan penggunaan Cadangan Minyak Strategis (SPR), meskipun Trump sebelumnya sering mengkritik Joe Biden karena melakukan hal serupa. Namun, para ahli menilai bahwa pelepasan cadangan minyak tidak akan mampu menutupi hilangnya 20 juta barel minyak per hari dari Selat Hormuz.

Satu-satunya solusi yang dianggap efektif oleh para eksekutif minyak dan diplomat adalah pengawalan militer terhadap kapal-kapal tanker melalui Selat Hormuz. Dalam wawancaranya dengan CBS News pada hari Senin, Trump memberikan sinyal kuat mengenai langkah ini. Ia menyatakan bahwa pemerintahannya sedang "berpikir" untuk mengambil alih kendali selat tersebut sepenuhnya guna menstabilkan pasar global. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya