Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

AS Habiskan Lebih dari Rp100 Triliun dalam Seminggu Perangi Iran

Media Indonesia
09/3/2026 10:00
AS Habiskan Lebih dari Rp100 Triliun dalam Seminggu Perangi Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Dok AFP)

BIAYA operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dalam sepekan pertama dilaporkan melonjak hingga menembus US$6 miliar atau lebih dari Rp101 triliun (asumsi kurs rupiah saat ini). Angka fantastis ini terungkap dalam laporan pejabat Pentagon kepada Kongres AS seiring meningkatnya intensitas "Operasi Epic Fury".

Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar US$4 miliar (Rp67,6 triliun) dari total biaya tersebut dihabiskan khusus untuk penggunaan amunisi presisi dan sistem pencegat rudal canggih. Sejak operasi dimulai pada 28 Februari 2026, militer AS tercatat telah menghantam lebih dari 4.000 target di wilayah Iran, termasuk fasilitas nuklir, markas militer, dan peluncur rudal balistik.

Rincian Estimasi Biaya Operasi Epic Fury (Sepekan Pertama)

Komponen Biaya Estimasi Nilai (USD) Estimasi Nilai (IDR)
Amunisi & Rudal Pencegat US$ 4 Miliar ± Rp 67,6 Triliun
Operasional Kapal Induk (2 Unit) US$ 26 Juta / Hari ± Rp 439 Miliar / Hari
Mobilisasi Aset Regional US$ 630 Juta ± Rp 10,6 Triliun
Total Sepekan Pertama US$ 6 Miliar > Rp 101 Triliun

Biaya Operasional Harian yang Mencengangkan

Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa pada fase awal konflik, Washington rata-rata mengeluarkan sekitar US$891,4 juta atau hampir Rp15 triliun setiap harinya. Biaya ini mencakup operasional dua kelompok kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, serta pengerahan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang menelan biaya terbang hingga US$150.000 per jam.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengindikasikan bahwa operasi ini kemungkinan besar akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan anggota Kongres mengenai pengisian kembali (replenishment) stok persenjataan AS yang mulai menipis, terutama rudal pencegat tipe Patriot dan THAAD yang digunakan untuk menangkis serangan balasan Iran.

Dampak Terhadap Ekonomi Global

Lonjakan biaya perang ini bukan tanpa konsekuensi. Di pasar global, ketegangan di Selat Hormuz telah menyebabkan ketidakpastian pasokan energi. Sementara itu, nilai tukar mata uang rupiah juga terus dipantau ketat oleh otoritas moneter Indonesia seiring potensi fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dapat membebani APBN melalui subsidi energi.

Pemerintah AS diperkirakan akan segera mengajukan anggaran tambahan (supplemental budget) kepada Kongres untuk mendanai kelanjutan perang ini, yang oleh sebagian kritikus dianggap mulai mengalihkan sumber daya dari kebijakan domestik Amerika Serikat. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya