Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Eks Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Diselidiki FBI Usai Kritik Keras Perang Iran

Thalatie K Yani
19/3/2026 09:31
Eks Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Diselidiki FBI Usai Kritik Keras Perang Iran
FBI selidiki Joe Kent terkait dugaan kebocoran informasi rahasia. Kent sebut pembunuhan Ali Khamenei oleh AS-Israel adalah kesalahan fatal.(The Tucker Carlson Show)

MANTAN Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, Joe Kent, kini berada dalam pusaran penyelidikan Federal Bureau of Investigation (FBI). Langkah hukum ini mencuat hanya berselang beberapa hari setelah Kent mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan perang di Iran.

Menurut laporan mitra media BBC, CBS, penyelidikan FBI ini berkaitan dengan dugaan kebocoran informasi rahasia. Sumber menyebutkan bahwa investigasi tersebut sebenarnya telah dimulai bahkan sebelum Kent resmi menanggalkan jabatannya di awal pekan ini. Hingga berita ini diturunkan, pihak FBI belum memberikan komentar resmi terkait status penyelidikan tersebut.

Kritik Keras Operasi AS-Israel

Dalam wawancara perdana pasca-mundur bersama komentator politik konservatif Tucker Carlson, Kent melontarkan kritik tajam terhadap operasi militer gabungan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bulan lalu. Kent menilai langkah tersebut adalah sebuah kesalahan strategis yang fatal bagi stabilitas kawasan.

"Operasi AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei adalah hal terakhir yang seharusnya kita lakukan," ujar Kent dalam wawancara tersebut.

Kent menjelaskan argumennya meskipun ia bukan pengikut Khamenei, sang pemimpin tersebut justru berperan dalam menahan ambisi nuklir Iran secara ekstrem.

"Dia (Khamenei) memoderasi program nuklir mereka, dia mencegah mereka mendapatkan senjata nuklir," tambahnya. Saat ditanya oleh Carlson apakah Iran saat itu berada di ambang memiliki senjata nuklir, Kent menjawab tegas, "Tidak, mereka tidak berada di ambang itu."

Risiko Radikalisasi Rezim

Kent memperingatkan pembunuhan Khamenei justru akan memicu sentimen nasionalisme yang memperkuat rezim. Ia menyoroti sosok Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, yang kini telah terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru.

"Jika Anda menyingkirkannya, jika Anda membunuhnya secara agresif, orang-orang akan bersatu di sekitar rezim tersebut dan ayatollah berikutnya yang Anda dapatkan, dan menurut saya berdasarkan semua data yang kita miliki, inilah yang terjadi dengan putranya," papar Kent.

Hubungan dengan Donald Trump

Meski mundur karena ketidaksepakatan kebijakan, Kent menegaskan hubungannya dengan Presiden Donald Trump tetap terjaga dengan baik. Ia mengungkapkan telah berbicara langsung dengan Trump sebelum meninggalkan pemerintahan.

"Saya berbicara dengannya sebelum saya meninggalkan administrasi. Percakapan itu berjalan baik. Maksud saya, bukan percakapan terbaik yang pernah ada, tapi saya memberi tahu dia alasan saya pergi dan dia mendengarkan saya," ungkap Kent. Ia menambahkan Trump bersikap sangat hormat dan baik, serta yakin mereka berpisah secara pribadi dalam hubungan yang positif.

Sebelum pengunduran dirinya resmi diumumkan, Kent dilaporkan telah bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance pada Senin untuk menyerahkan surat pengunduran diri sekaligus memaparkan kekhawatirannya mengenai eskalasi perang di Iran. (BBC/CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik