Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Mahasiswa Iran Lawan Milisi Basij di Tengah Ancaman Perang Trump

Thalatie K Yani
25/2/2026 04:53
Mahasiswa Iran Lawan Milisi Basij di Tengah Ancaman Perang Trump
Gelombang protes mahasiswa Iran pecah di hari keempat. Pasukan keamanan serbu kampus saat AS kumpulkan kekuatan militer jelang negosiasi nuklir.(Media Sosial X)

KETEGANGAN di Iran memuncak setelah pasukan keamanan berpakaian preman dan milisi bersenjata menyerbu universitas-universitas yang masih buka. Langkah ini merupakan upaya rezim untuk memadamkan protes mahasiswa yang telah memasuki hari keempat guna menentang Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei.

Bentrokan fisik dilaporkan pecah di beberapa lokasi. Video yang beredar menunjukkan perkelahian sengit antara milisi Basij yang didukung pemerintah dengan para mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi Teheran. Di luar Universitas Teheran, sejumlah truk pick-up yang dilengkapi senapan mesin terlihat berjaga, sementara demonstrasi serupa juga meluas hingga ke kota Mashhad.

Untuk meredam massa, otoritas kampus mulai melarang masuk mahasiswa yang teridentifikasi terlibat dalam aksi sebelumnya. Selain itu, sekitar 80% universitas di Iran kini beralih ke pembelajaran daring demi mencegah mahasiswa berkumpul.

Seruan Perlawanan di Dalam Kampus

Di Universitas Seni Teheran, para demonstran meneriakkan yel-yel perlawanan yang provokatif. Beberapa teriakan yang terdengar antara lain:

"Kami berjuang, kami mati, kami rebut kembali Iran," dan "Khamenei sang Zahhak [raja ular], kami akan menguburmu hidup-hidup."

Menanggapi aksi ini, Jaksa Agung Iran, Mohammad Mohebi Azad, menuntut tindakan tegas.
"Lembaga terkait harus segera mengidentifikasi elemen-elemen terkait dan mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap mereka. Setiap kali sistem berada di jalur negosiasi, arus tertentu, di bawah bimbingan musuh, mencoba mengobarkan suasana domestik," tegasnya pada Selasa kemarin.

Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Militer AS

Protes domestik ini menjadi latar belakang yang pelik bagi putaran ketiga perundingan nuklir yang akan digelar di Jenewa pada Kamis mendatang. Pertemuan tersebut melibatkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan utusan khusus AS, Steve Witkoff.

Negosiasi ini berlangsung saat Presiden AS Donald Trump menyelesaikan pengerahan besar-besaran kekuatan udara dan laut di kawasan tersebut. Trump bersikeras bahwa perang melawan Iran dapat dimenangkan dengan mudah. Lewat unggahan di media sosial, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan gagal, itu akan menjadi "hari yang sangat buruk bagi negara tersebut dan sayangnya bagi rakyatnya."

Kontroversi Jumlah Korban Jiwa

Di tengah gejolak ini, perbedaan data korban jiwa akibat tindakan keras pemerintah pada protes Januari lalu kembali mencuat. Organisasi hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Washington merilis laporan bertajuk Red Winter, yang mengidentifikasi 7.070 korban tewas.

Sebaliknya, kantor kepresidenan Iran hanya merilis daftar identitas 2.986 orang dan menyatakan total kematian mencapai 3.117 jiwa. Rezim berdalih adanya selisih angka tersebut disebabkan oleh anonimitas beberapa individu dan ketidaksinkronan data identitas nasional dengan sistem pendaftaran sipil.

Situasi kini berada di titik kritis, di mana rezim Khamenei mulai menggunakan retorika "konfrontasi Karbala", sebuah narasi syahid yang lebih memilih mati berdiri daripada tunduk pada penguasa yang dianggap tidak adil. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya