Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Ancaman Resesi Global di Depan Mata

Media Indonesia
18/3/2026 17:00
Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Ancaman Resesi Global di Depan Mata
Ilustrasi.(Freepik)

ESKALASI konflik bersenjata di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, telah memicu guncangan hebat pada pasar energi global dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga minyak dan gas yang signifikan mulai menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan ekonom bahwa resesi global mungkin tidak lagi terhindarkan jika biaya energi tetap tinggi dalam jangka panjang.

Ancaman Resesi di Depan Mata

Kepala Ekonom Moody's, Mark Zandi, menyatakan bahwa resesi kini kembali menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia. Berdasarkan model ekonomi terbaru, Moody's menempatkan probabilitas terjadinya resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 49%. Angka ini didorong oleh pelemahan pasar kerja dan lonjakan biaya energi yang konsisten mendahului hampir setiap resesi sejak Perang Dunia II.

Pada perdagangan Selasa (17/3/2026), minyak mentah Brent sebagai patokan internasional telah merangkak naik di atas US$102 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melonjak melampaui US$95 per barel. Meski masih di bawah rekor tertinggi, tren kenaikan ini dianggap sangat mengkhawatirkan.

Catatan Penting: Analis Wells Fargo menyebutkan harga minyak di level US$130 per barel yang bertahan selama berbulan-bulan akan memaksa perusahaan melakukan efisiensi karyawan (PHK) secara besar-besaran.

Skenario Terburuk: Minyak US$200 dan Blokade Selat Hormuz

Skenario yang lebih mengerikan datang dari Teheran. Ebrahim Zolfaqari, juru bicara militer Iran, memperingatkan bahwa harga minyak bisa menyentuh US$200 per barel jika tekanan militer terhadap Iran terus berlanjut. Ancaman blokade di Selat Hormuz menjadi kartu kunci, mengingat jalur ini dilalui oleh 20% perdagangan minyak global.

Goldman Sachs mencatat bahwa gangguan di jalur ini memiliki dampak 17 kali lebih besar dibandingkan gangguan produksi akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Jika Iran terus mengganggu pengiriman hingga Maret, harga minyak diprediksi melampaui puncak sejarah tahun 2008 yang berada di level US$147 per barel.

Tekanan Inflasi dan Dilema The Fed

Di Amerika Serikat, dampak kenaikan harga energi sudah mulai terasa pada angka inflasi. Biaya bahan bakar minyak melonjak 11,1% hanya dalam periode Januari hingga Februari 2026. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya 92.000 pekerjaan nonpertanian pada Februari yang melambungkan tingkat pengangguran menjadi 4,4%.

Situasi ini menempatkan Federal Reserve dalam posisi sulit. Bank sentral AS tersebut dijadwalkan mengakhiri pertemuan kebijakannya pada Rabu besok. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75% guna menyeimbangkan tekanan inflasi energi dengan risiko perlambatan ekonomi yang semakin nyata. (Forbes/I-2)

Indikator Ekonomi Data Terbaru (Feb-Mar 2026)
Harga Minyak Brent > $102 / barel
Peluang Resesi (Moody's) 49% dalam 12 bulan
Tingkat Pengangguran AS 4,4%
Kenaikan Biaya BBM 11,1% (Jan-Feb)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik