Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Sosok Mojtaba Khamenei, Pemimpin Agung Baru Iran yang Menantang Ancaman Trump

Thalatie K Yani
09/3/2026 05:13
Sosok Mojtaba Khamenei, Pemimpin Agung Baru Iran yang Menantang Ancaman Trump
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya. Simak profil sang "Rising Star" yang dikenal dekat dengan militer dan penuh kontroversi.(Media Sosial X)

DI tengah gempuran serangan udara dan ketegangan perang, Iran resmi mengumumkan era kepemimpinan baru. Majelis Ahli Iran, lembaga ulama beranggotakan 88 orang, telah menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung Iran yang ketiga, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada 28 Februari lalu.

Penunjukan Mojtaba, 56, merupakan langkah berani Teheran dalam mengabaikan tekanan internasional. Presiden AS Donald Trump sebelumnya secara terbuka menentang sosok ini.

"Putra Khamenei tidak bisa saya terima," ujar Trump awal pekan ini. Bahkan, hanya beberapa jam sebelum pengumuman resmi, Trump memperingatkan bahwa siapa pun yang mengambil alih tanpa persetujuannya "tidak akan bertahan lama." Senada dengan AS, militer Israel juga menegaskan akan "terus mengejar setiap penerus" dari mendiang Ayatollah.

Pemimpin Misterius dengan Pengaruh Kuat

Mojtaba Khamenei dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup. Sebagian besar warga Iran bahkan belum pernah mendengar suaranya secara langsung karena ia jarang memberikan kuliah umum, khotbah Jumat, atau pidato politik. Namun, di balik layar, ia adalah figur "rising star" di lingkaran dalam kekuasaan selama beberapa dekade.

Naiknya Mojtaba menjadi sinyal kuat faksi garis keras masih memegang kendali penuh di Iran. Hal ini sekaligus mengisyaratkan Teheran tidak memiliki keinginan untuk bernegosiasi dalam waktu dekat. Penunjukan ini juga dianggap menciptakan dinasti baru, sebuah topik sensitif yang mengingatkan publik pada era monarki Pahlavi sebelum revolusi 1979.

Kedekatan dengan Militer dan Kontroversi

Kekuatan utama Mojtaba terletak pada hubungan mendalamnya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sejak masa mudanya di Batalyon Habib selama Perang Iran-Irak tahun 1980-an, ia telah membangun jaringan dengan rekan-rekan seperjuangan yang kini menduduki posisi kunci di aparat keamanan dan intelijen.

Namun, rekam jejaknya tak lepas dari tuduhan serius. Selama hampir dua dekade, lawan politik menghubungkan namanya dengan penindasan brutal terhadap demonstran.

Gerakan Hijau 2009: Ia dituduh mencampuri pemilu dan menggunakan paramiliter Basij untuk membungkam pengunjuk rasa.
Protes Januari 2026: Pasukan Basij juga berada di pusat tindakan keras dalam gelombang protes nasional dua bulan lalu, yang menurut PBB menewaskan ribuan orang.

Kredensial Agama dan Kekayaan

Secara religius, Mojtaba saat ini menyandang gelar Hojatoleslam (ulama tingkat menengah), bukan Ayatollah. Namun, preseden ini pernah terjadi pada ayahnya di tahun 1989, di mana hukum disesuaikan untuk mengakomodasi posisi kepemimpinan tersebut.

Selain pengaruh politik, laporan media Barat juga mengaitkan namanya dengan imperium ekonomi bernilai miliaran dolar melalui jaringan orang dalam, termasuk dugaan kepemilikan properti mewah di Eropa. Hingga saat ini, baik Mojtaba maupun pihak terkait belum memberikan pernyataan publik mengenai tuduhan tersebut.

Kini, di bawah bayang-bayang kampanye pengeboman intensif dan pemadaman internet nasional, dunia menanti langkah pertama Mojtaba Khamenei dalam memimpin Iran keluar dari kemelut perang. (BBC/Al Jazeera/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya