Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Suhu Politik Memanas, Trump Tuntut Peran dalam Penentuan Pemimpin Baru Iran

Thalatie K Yani
09/3/2026 04:04
Suhu Politik Memanas, Trump Tuntut Peran dalam Penentuan Pemimpin Baru Iran
Presiden AS Donald Trump menuntut persetujuan atas penerus Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, serangan udara Israel membuat udara Teheran tidak layak hirup.(White House)

ESKALASI konflik di Timur Tengah memasuki babak baru pasca-tewasnya Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras bahwa siapa pun penerus takhta kepemimpinan di Teheran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari Washington.

Hingga sembilan hari setelah dimulainya perang yang menewaskan Khamenei, Majelis Ahli Iran mengonfirmasi telah memilih penerus, namun belum mengumumkan nama secara resmi. Nama putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, 56, santer disebut sebagai kandidat kuat, meskipun Trump sebelumnya meremehkannya sebagai sosok "ringan" yang tidak dapat diterima.

"Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami," tegas Trump kepada ABC News pada Minggu waktu setempat. "Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama."

Menanggapi hal tersebut, diplomat tinggi Iran, Abbas Araghchi, menegaskan penentuan pemimpin adalah kedaulatan penuh Iran. "Kami tidak akan membiarkan siapa pun mencampuri urusan dalam negeri kami," ujar Araghchi dalam program Meet the Press di NBC. Ia bahkan menuntut Trump untuk meminta maaf kepada masyarakat di kawasan tersebut atas perang yang terus meluas.

Kondisi Teheran: Udara Tidak Layak Hirup

Di saat bursa kepemimpinan memanas, kondisi di lapangan semakin memprihatinkan. Serangan udara Israel semalam menargetkan fasilitas bahan bakar di sekitar Teheran dan sebuah hotel di Beirut, Lebanon. Serangan di Beirut dilaporkan menewaskan lima komandan Garda Revolusi, termasuk tiga anggota pasukan elit Quds.

Ledakan di lima fasilitas minyak di ibu kota Iran menyebabkan kepulan asap beracun menyelimuti kota berpenduduk 10 juta jiwa tersebut. Otoritas setempat mengimbau warga tetap berada di dalam rumah karena kualitas udara yang mematikan.

"Kebakaran telah berlangsung lebih dari 12 jam, udara menjadi tidak layak dihirup. Saya bahkan tidak bisa keluar untuk belanja harian," ungkap seorang warga Teheran berusia 35 tahun melalui pesan singkat.

Perang Rudal dan Proyeksi Konflik

Meskipun digempur, Garda Revolusi Iran mengklaim memiliki pasokan yang cukup untuk melanjutkan perang drone dan rudal selama enam bulan ke depan. Juru bicara Garda Revolusi, Ali Mohammad Naini, mengancam akan segera menggunakan "rudal jarak jauh canggih" dalam beberapa hari mendatang.

Di sisi lain, korban sipil terus berjatuhan. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 1.200 warga sipil tewas dan 10.000 lainnya luka-luka sejak konflik pecah, data yang belum dapat diverifikasi secara independen. Sementara itu, di Libanon, sedikitnya 394 orang tewas akibat serangan udara Israel dalam sepekan terakhir.

Hingga saat ini, para analis memperingatkan belum ada jalur jelas untuk mengakhiri konflik yang diprediksi bisa berlangsung satu bulan atau lebih. Di tengah kebuntuan diplomasi, Paus Leo XIV menyampaikan doa agar suara bom segera berhenti dan ruang dialog dapat segera terbuka. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya