Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Eks Direktur CIA Sebut Penunjukan Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Agung Iran "Sial"

Thalatie K Yani
09/3/2026 06:09
Eks Direktur CIA Sebut Penunjukan Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Agung Iran
Eks Direktur CIA David Petraeus menilai Mojtaba Khamenei akan meneruskan garis keras ayahnya. (AFP)

MANTAN Direktur CIA, David Petraeus, memberikan komentar tajam terkait penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru Iran. Petraeus menyebut terpilihnya putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut sebagai sebuah langkah yang "sial" (unfortunate).

Dalam wawancara dengan CNN pada Minggu (8/3), Petraeus menilai sosok Mojtaba kemungkinan besar hanyalah kelanjutan dari rezim sebelumnya yang dikenal sangat konservatif.

"Kami berasumsi bahwa dia akan menjadi kelanjutan dari ayahnya, yaitu seorang ulama ideologis yang sangat garis keras," ujar Petraeus kepada Jessica Dean dari CNN.

Persoalan Gelar dan Kredensial Agama

Salah satu poin yang disoroti Petraeus adalah status keagamaan Mojtaba. Secara tradisional, jabatan Pemimpin Agung biasanya dipegang oleh seorang Ayatollah (gelar ulama tingkat tinggi), sementara Mojtaba selama ini dikenal sebagai ulama tingkat menengah.

"Saya rasa dia bahkan bukan seorang Ayatollah, kecuali dia baru saja dipromosikan baru-baru ini. Hal yang sama, omong-omong, juga terjadi pada ayahnya; dia tidak begitu menonjol saat terpilih beberapa dekade lalu," tambah Petraeus.

Petraeus menjelaskan bahwa banyak pihak sebelumnya berharap Iran akan dipimpin oleh sosok yang lebih "pragmatis". Pemimpin semacam itu diharapkan memiliki kemauan untuk menyetujui tuntutan Amerika Serikat, termasuk penghentian program nuklir dan rudal. Namun, penunjukan Mojtaba seolah menutup pintu bagi harapan tersebut.

Kekuatan di Balik Layar

Meskipun tidak memiliki peran resmi di pemerintahan sebelumnya, Mojtaba Khamenei, 56, dikenal sangat berpengaruh di balik layar. Ia memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer paling berpengaruh di Iran—serta pasukan paramiliter Basij.

Majelis Ahli Iran menyatakan mereka sengaja mempercepat proses konstitusional ini untuk menghindari kekosongan kekuasaan. Pertemuan darurat segera dilakukan sesaat setelah kabar kematian Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel terkonfirmasi, meskipun di tengah kondisi perang yang berat.

Seruan Persatuan Nasional

Menanggapi penunjukan tersebut, Majelis Ahli Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang mendesak rakyat untuk mendukung kepemimpinan baru. Mereka meminta para cendekiawan, akademisi, dan elite nasional untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada Mojtaba Khamenei.

Majelis menekankan pentingnya menjaga persatuan di bawah prinsip Velayat-e Faqih, sistem perwalian ahli hukum Islam yang menjadi fondasi struktur politik Iran sejak revolusi 1979.

Setelah melalui proses yang disebut sebagai "musyawarah luas," Majelis Ahli mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei terpilih secara bulat sebagai pemimpin ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran. (CNN/Al Jazeera/BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya