Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Resmi! Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Agung Iran di Tengah Ancaman AS-Israel

Thalatie K Yani
09/3/2026 04:49
Resmi! Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Agung Iran di Tengah Ancaman AS-Israel
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru. Langkah ini menantang peringatan keras dari Donald Trump.(AFP)

PEMERINTAH ulama Iran resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru pada Minggu (8/3). Langkah ini diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap ancaman Amerika Serikat dan Israel yang secara terbuka menentang suksesi tersebut.

Penunjukan pria berusia 56 tahun itu terjadi sembilan hari setelah serangan udara AS-Israel menewaskan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu pecahnya perang besar di Timur Tengah. Majelis Ahli Iran menyatakan keputusan ini diambil secara bulat tanpa keraguan sedikit pun.

"Mojtaba Khamenei ditunjuk dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan suara mutlak dari para perwakilan Majelis Ahli yang terhormat," bunyi pernyataan resmi lembaga ulama tersebut.

Pihak Majelis menegaskan mereka tidak ragu sedetik pun dalam memilih pemimpin baru, meski berada di bawah tekanan "agresi brutal Amerika dan rezim jahat Zionis."

Ketegangan dengan Washington

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya meremehkan Mojtaba sebagai sosok yang tidak kompeten dan menuntut peran dalam penentuan pemimpin Iran. Sebelum pengumuman resmi dilakukan, Trump memberikan peringatan keras melalui media.

"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ujar Trump kepada ABC News.

Namun, Teheran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa keputusan tersebut murni urusan internal Iran. Berbicara dalam program Meet the Press di NBC, Araghchi bahkan menuntut Trump untuk meminta maaf kepada masyarakat di kawasan tersebut karena telah memicu perang.

Udara Teheran 'Tidak Layak Hirup'

Di tengah pergolakan politik, kondisi di ibu kota Teheran memburuk setelah Israel menggempur lima fasilitas minyak semalam. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan memicu kebakaran hebat yang menyelimuti kota dengan asap beracun.

Gubernur Teheran melaporkan distribusi bahan bakar terganggu sementara. Warga diperingatkan untuk tetap berada di dalam rumah karena polusi udara yang berisiko toksik.

"Kebakaran telah berlangsung lebih dari 12 jam, udara menjadi tidak layak dihirup. Saya bahkan tidak bisa keluar untuk sekadar belanja kebutuhan harian," ungkap seorang warga Teheran berusia 35 tahun melalui pesan singkat.

Eskalasi Perang Regional

Konflik kini telah meluas ke berbagai negara tetangga. Arab Saudi melaporkan dua orang tewas akibat "proyektil militer" di provinsi Al Kharj. Sementara itu, Kuwait menyatakan tangki bahan bakar di bandara internasionalnya terkena serangan, dan Bahrain melaporkan kerusakan pada fasilitas desalinasi air.

Meski Trump bersikeras perang hampir dimenangkan, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim memiliki pasokan yang cukup untuk melanjutkan perang drone dan rudal hingga enam bulan ke depan. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, mengancam akan mengerahkan "rudal jarak jauh canggih" dalam beberapa hari mendatang.

Hingga saat ini, belum ada jalur diplomasi yang jelas untuk mengakhiri konflik. Di tengah kebuntuan tersebut, Paus Leo XIV menyampaikan doa agar suara bom segera berhenti dan ruang dialog dapat terbuka bagi semua pihak yang bertikai. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya