Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH ulama Iran resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru pada Minggu (8/3). Langkah ini diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap ancaman Amerika Serikat dan Israel yang secara terbuka menentang suksesi tersebut.
Penunjukan pria berusia 56 tahun itu terjadi sembilan hari setelah serangan udara AS-Israel menewaskan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu pecahnya perang besar di Timur Tengah. Majelis Ahli Iran menyatakan keputusan ini diambil secara bulat tanpa keraguan sedikit pun.
"Mojtaba Khamenei ditunjuk dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan suara mutlak dari para perwakilan Majelis Ahli yang terhormat," bunyi pernyataan resmi lembaga ulama tersebut.
Pihak Majelis menegaskan mereka tidak ragu sedetik pun dalam memilih pemimpin baru, meski berada di bawah tekanan "agresi brutal Amerika dan rezim jahat Zionis."
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya meremehkan Mojtaba sebagai sosok yang tidak kompeten dan menuntut peran dalam penentuan pemimpin Iran. Sebelum pengumuman resmi dilakukan, Trump memberikan peringatan keras melalui media.
"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ujar Trump kepada ABC News.
Namun, Teheran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa keputusan tersebut murni urusan internal Iran. Berbicara dalam program Meet the Press di NBC, Araghchi bahkan menuntut Trump untuk meminta maaf kepada masyarakat di kawasan tersebut karena telah memicu perang.
Di tengah pergolakan politik, kondisi di ibu kota Teheran memburuk setelah Israel menggempur lima fasilitas minyak semalam. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan memicu kebakaran hebat yang menyelimuti kota dengan asap beracun.
Gubernur Teheran melaporkan distribusi bahan bakar terganggu sementara. Warga diperingatkan untuk tetap berada di dalam rumah karena polusi udara yang berisiko toksik.
"Kebakaran telah berlangsung lebih dari 12 jam, udara menjadi tidak layak dihirup. Saya bahkan tidak bisa keluar untuk sekadar belanja kebutuhan harian," ungkap seorang warga Teheran berusia 35 tahun melalui pesan singkat.
Konflik kini telah meluas ke berbagai negara tetangga. Arab Saudi melaporkan dua orang tewas akibat "proyektil militer" di provinsi Al Kharj. Sementara itu, Kuwait menyatakan tangki bahan bakar di bandara internasionalnya terkena serangan, dan Bahrain melaporkan kerusakan pada fasilitas desalinasi air.
Meski Trump bersikeras perang hampir dimenangkan, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim memiliki pasokan yang cukup untuk melanjutkan perang drone dan rudal hingga enam bulan ke depan. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, mengancam akan mengerahkan "rudal jarak jauh canggih" dalam beberapa hari mendatang.
Hingga saat ini, belum ada jalur diplomasi yang jelas untuk mengakhiri konflik. Di tengah kebuntuan tersebut, Paus Leo XIV menyampaikan doa agar suara bom segera berhenti dan ruang dialog dapat terbuka bagi semua pihak yang bertikai. (AFP/Z-2)
Simak profil Majelis Ahli Iran, lembaga berisi 88 ulama senior yang baru saja menunjuk Pemimpin Agung baru di tengah gempuran serangan udara Israel.
Eks Direktur CIA David Petraeus menilai Mojtaba Khamenei akan meneruskan garis keras ayahnya.
IRGC resmi nyatakan kepatuhan total kepada Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru Iran.
Presiden AS Donald Trump menolak keras penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung Iran. Sementara Israel mengancam akan memburu siapa pun penerusnya.
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya. Simak profil sang "Rising Star" yang dikenal dekat dengan militer dan penuh kontroversi.
AKSI protes besar-besaran menentang pemerintahan Presiden Donald Trump kembali berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat dalam gelombang demonstrasi bertajuk No Kings.
DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat tengah merancang skenario serangan darat ke Iran untuk beberapa pekan di tengah pengerahan personel AS ke Timur Tengah.
Gerakan No Kings mengguncang Amerika Serikat setelah aksi massa serentak digelar di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu (28/3).
JUTAAN warga di berbagai kota di Amerika Serikat (AS) turun ke jalan dalam aksi No Kings untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump.
Usai aksi besar 28 Maret, gerakan No Kings menyiapkan langkah lanjutan lewat agenda nasional. Simak rencana berikutnya dan catat tanggal pentingnya.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jumat (27/3), mengatakan bahwa Kuba bisa menjadi target aksi AS di masa depan setelah Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved