Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
STABILITAS politik Iran mulai menunjukkan arah baru pasca-penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi menyambut baik penunjukan tersebut melalui pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Irib dan kantor berita Tasnim.
Dalam pernyataan resminya, IRGC memuji sosok Mojtaba Khamenei sebagai seorang "ahli hukum yang komprehensif, pemikir muda, serta sosok yang paling berpengetahuan dalam isu-isu politik dan sosial." Sebagai angkatan bersenjata yang bertugas menjaga Republik Islam dan memegang kendali atas berbagai lini kekuasaan, dukungan IRGC menjadi fondasi krusial bagi kepemimpinan baru ini.
IRGC menyatakan "penghormatan, pengabdian, dan kepatuhan" mereka kepada Mojtaba. Para anggotanya menegaskan kesiapan untuk memberikan "kepatuhan penuh dan pengorbanan diri dalam menjalankan perintah suci sang Wali Fatih (Pemimpin Penjaga)."
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, turut memberikan apresiasi kepada Majelis Ahli atas keberanian mereka memilih penerus Ayatollah Ali Khamenei. Larijani menekankan proses seleksi ini tetap berjalan meski di bawah tekanan luar biasa.
"Terima kasih kepada Majelis Ahli karena telah memilih penerus Ali Khamenei meskipun ada ancaman dari Trump untuk mengebomnya," ujar Larijani sebagaimana dilaporkan oleh berbagai kantor berita Iran.
Larijani menambahkan bahwa "musuh-musuh" Teheran mengira negara tersebut akan mengalami "kebuntuan" setelah kematian Ali Khamenei. Namun, Majelis Ahli akhirnya membuktikan sebaliknya dengan menetapkan Mojtaba Khamenei di puncak kepemimpinan.
Kabar penunjukan ini mengejutkan banyak pihak karena semula pengumuman Pemimpin Agung diperkirakan akan memakan waktu lama. Terlebih lagi, Iran saat ini tengah mengalami pemadaman internet yang membatasi arus informasi di dalam negeri.
Munculnya Mojtaba menegaskan kepemimpinan Iran memilih jalur garis keras ketimbang memilih sosok yang lebih dekat dengan kelompok reformis. Meski demikian, masyarakat Iran diprediksi tetap terbelah menyikapi pengumuman ini. Kelompok reformis yang selama ini menuntut perubahan di jalanan kemungkinan besar tidak akan mengubah sikap mereka.
Namun, di bawah situasi perang saat ini, suara-suara kritis tersebut tampak meredup. Hal ini bukan hanya karena tindakan otoritas, melainkan adanya perasaan di kalangan banyak warga Iran bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan aksi demonstrasi di tengah ancaman militer yang nyata. (Al Jazeera/BBC/Z-2)
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya. Simak profil sang "Rising Star" yang dikenal dekat dengan militer dan penuh kontroversi.
Presiden AS Donald Trump menuntut persetujuan atas penerus Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, serangan udara Israel membuat udara Teheran tidak layak hirup.
Rangkuman terbaru perang Timur Tengah 8 Maret 2026: Serangan ke Teheran, eskalasi di Libanon, hingga hilangnya 3 awak kapal Indonesia di Selat Hormuz.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian umumkan penghentian serangan ke negara tetangga, namun Donald Trump justru ancam penghancuran total. Simak analisisnya.
Sebanyak 4 orang tewas dan 10 lainnya terluka dalam serangan udara Israel ke apartemen di gedung Hotel Ramada di pusat Beirut, Minggu (8/3) pagi.
Eks Direktur CIA David Petraeus menilai Mojtaba Khamenei akan meneruskan garis keras ayahnya.
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru. Langkah ini menantang peringatan keras dari Donald Trump.
Selain penetapan status teroris bagi IRGC, Uni Eropa juga memperluas daftar sanksi individu. Sebanyak 15 pejabat dari sektor keamanan dan peradilan Iran secara resmi masuk dalam daftar hitam.
ANGGOTA pertama kelompok yang nanti disebut Garda Revolusi Iran (IRGC) dilatih dalam desa terpencil di luar Paris, Prancis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved