Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tidak akan lagi menyerang negara-negara tetangga selama serangan tidak berasal dari wilayah mereka.
Pernyataan itu disampaikan ketika Presiden AS Donald Trump justru mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran seiring konflik yang memasuki pekan kedua.
Pezeshkian mengatakan dewan kepemimpinan sementara Iran menyetujui keputusan untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara di kawasan tersebut. Dalam pernyataan yang dimuat media Iran, ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat meningkat. Dalam unggahannya di platform media sosial Truth, Trump menyatakan Iran akan menghadapi serangan yang lebih keras.
"Hari ini Iran akan dihantam dengan sangat keras!" tulis Trump. Ia menggambarkan pesan perdamaian dari Iran sebagai tanda bahwa presiden Iran telah menyerah kepada negara-negara Teluk.
Trump juga mengeluarkan ancaman tambahan terhadap target lain di kawasan.
Trump juga mengeklaim bahwa militer AS menghancurkan puluhan kapal perang Iran dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, sebanyak 42 kapal perang Iran dihancurkan dalam waktu tiga hari. Namun, pihak Iran menanggapi klaim tersebut dengan peringatan keras.
Seorang juru bicara militer Iran menyatakan kapal musuh yang memasuki Teluk akan menghadapi konsekuensi serius. Ia mengatakan kapal-kapal tersebut akan berakhir di dasar laut.
Meski demikian, Pezeshkian menolak tuntutan Washington yang meminta Iran menyerah tanpa syarat. Ia menegaskan bahwa Iran tetap berpegang pada prinsip hukum internasional.
"Kita menyerah tanpa syarat adalah mimpi yang harus mereka bawa sampai ke liang kubur. Yang kami patuhi adalah hukum internasional dan kerangka kerja kemanusiaan," lanjutnya.
Sikap serupa juga disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam pernyataannya yang dimuat media pemerintah, IRGC menegaskan Iran menghormati kedaulatan negara-negara tetangga dan tidak melakukan agresi terhadap mereka.
"Menyusul pernyataan presiden, angkatan bersenjata sekali lagi menyatakan bahwa mereka menghormati kepentingan dan kedaulatan nasional negara-negara tetangga dan, hingga saat ini, belum melakukan agresi apa pun terhadap mereka," demikian pernyataan IRGC.
Namun IRGC juga memperingatkan bahwa jika serangan terhadap Iran berlanjut, seluruh kepentingan militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan akan menjadi sasaran.
"Jika tindakan permusuhan sebelumnya berlanjut, semua pangkalan militer dan kepentingan Amerika yang kriminal dan rezim Zionis palsu di darat, di laut, dan di udara di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target utama dan akan berada di bawah serangan dahsyat dan menghancurkan dari angkatan bersenjata Republik Islam Iran yang perkasa," paparnya.
Belakangan, Pezeshkian juga mengklarifikasi melalui platform X bahwa Iran sebenarnya tidak menyerang negara tetangga secara langsung. Ia menyebut target serangan Iran adalah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Menurutnya, komitmen Iran untuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga tidak menghilangkan hak negara itu untuk mempertahankan diri.
"Komitmen Teheran untuk menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangganya tidak meniadakan hak inheren Iran untuk membela diri terhadap agresi militer oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis," ujarnya.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pernyataan presiden Iran tidak sepenuhnya menentukan arah kebijakan militer negara itu.
Jurnalis Al Jazeera, Resul Serdar, menyebut pengaruh terbesar dalam isu keamanan berada pada Garda Revolusi dan kantor pemimpin tertinggi Iran.
"Tokoh politik di Iran bertanggung jawab untuk menjalankan urusan negara dan urusan nonstrategis. Tetapi ketika menyangkut urusan strategis, seperti kebijakan luar negeri dan keamanan negara, para politisi tidak memiliki suara," kata Serdar.
Ia menambahkan bahwa dalam situasi konflik yang dianggap sebagai perang untuk bertahan hidup, keputusan militer sepenuhnya berada di tangan IRGC.
"IRGC sekarang sepenuhnya memegang kendali dan mereka akan memutuskan apakah akan menyerang atau tidak," ujarnya.
Serdar juga menyebut kepala IRGC, Ahmad Vahidi, sebagai salah satu komandan paling keras dalam sejarah organisasi tersebut.
Sejumlah negara di kawasan Teluk menjadi sasaran serangan karena keberadaan fasilitas militer AS di wilayah mereka.
Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman terdampak oleh konflik tersebut. Selain itu, beberapa negara lain seperti Irak, Yordania, Azerbaijan, dan Turki juga ikut menjadi sasaran.
Konflik tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, gangguan penerbangan, serta penutupan wilayah udara di sejumlah negara.
Produksi minyak dan gas di kawasan Teluk juga mengalami gangguan yang berdampak pada pasar energi global.
Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, memperingatkan bahwa ekspor energi dari kawasan Teluk dapat terganggu jika perang terus berlanjut.
"Jika perang berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terpengaruh," kata al-Kaabi dalam wawancara dengan Financial Times.
"Harga energi semua orang akan naik. Akan ada kekurangan beberapa produk dan akan ada reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak dapat memasok," tambahnya.
Sementara itu, korban dari pihak Amerika Serikat dilaporkan terjadi ketika Iran menyerang pusat komando militer AS di Kuwait yang menewaskan enam tentara.
Di dalam negeri AS sendiri, perang terhadap Iran disebut tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Koresponden Al Jazeera, Heidi Zhou-Castro, mengatakan banyak warga Amerika, termasuk pendukung Trump, mempertanyakan keterlibatan negaranya dalam konflik tersebut.
"Berbicara dengan orang-orang, terutama di daerah-daerah yang memilih Trump, banyak orang yang skeptis, terutama mengingat basis MAGA, Make America Great Again, yang mendukung Trump dalam apa yang disebutnya doktrin America First, dan tidak ingin AS terlibat dalam lebih banyak konflik asing di luar negeri," ujarnya.
Menurut laporan, lebih dari 1.300 warga Iran telah tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel selama minggu pertama perang. (Al Jazeera/I-2)
Iran tunjuk badan pemerintahan sementara beranggotakan 3 orang pasca wafatnya Ali Khamenei. Di saat bersamaan, AS siapkan operasi militer 100 hari ke Teheran.
LEDAKAN dilaporkan terjadi di beberapa kota di Iran, termasuk Teheran, setelah Israel dan AS melancarkan serangan pada Sabtu (28/2) pagi. AS berencana melakukan serangan selama beberapa hari.
Kemenlu RI pastikan rencana kontingensi dan jalur evakuasi WNI di Iran siap menyusul ancaman 'armada besar' Donald Trump. Simak situasi terkini Teheran.
Presiden Iran Pezeshkian mengeklaim AS & Israel adalah dalang kerusuhan.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Pernyataan Pezeshkian muncul ketika negara negara Arab tetangga Iran tengah mempertimbangkan respons mereka terhadap serangan rudal Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menuduh AS dan Israel melakukan serangan yang menargetkan sebuah sekolah dasar di Lapangan Niloufar, Teheran.
Komentar tersebut disampaikan setelah Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Media lokal Iran melaporkan 160 orang tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel di sekolah perempuan Iran selatan.
Presiden Masoud Pezeshkian tegaskan bangsa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi musuh. Ia menyerukan persatuan nasional untuk atasi tekanan politik dan ekonomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved