Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik gelombang protes berdarah yang mengguncang negaranya. Pernyataan ini muncul di tengah laporan penangkapan 3.000 orang dan manuver intelijen Israel di Amerika Serikat.
Pemerintah Iran mengeklaim memiliki bukti kuat adanya keterlibatan kekuatan asing dalam menggerakkan aksi protes yang berujung ricuh di berbagai wilayah. Pezeshkian menegaskan eskalasi di lapangan merupakan hasil campur tangan Washington dan sekutu dekatnya di Timur Tengah.
"Peran dan keterlibatan langsung Amerika Serikat serta rezim Zionis dalam peristiwa terbaru di Iran sangat jelas," tegas Pezeshkian sebagaimana dirilis kantor kepresidenan Iran yang dikutip dari AFP.
Tudingan ini mencuat setelah Dewan Keamanan PBB menggelar sesi khusus pada Kamis (15/1). Dalam forum tersebut, posisi Iran mendapat dukungan dari Rusia. Duta Besar Rusia untuk PBB bahkan menuduh balik Amerika Serikat telah mengeksploitasi isu domestik Iran untuk memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan.
Seiring dengan narasi keterlibatan asing, otoritas keamanan Iran mengumumkan telah menahan sedikitnya 3.000 orang yang dituduh sebagai "teroris". Laporan kantor berita Tasnim pada Jumat (16/1) menyebutkan bahwa para tahanan mencakup pemimpin kerusuhan, individu yang terafiliasi dengan Israel, serta kelompok bersenjata.
Meskipun situasi mengeklaim relatif tenang, Teheran tetap waspada terhadap upaya sabotase internasional. Narasi ini digunakan untuk mengonsolidasikan dukungan domestik guna menjelaskan akar kerusuhan yang semula dipicu oleh depresiasi tajam mata uang rial pada akhir Desember lalu.
Di level internasional, ketegangan justru kian memanas. Kepala Mossad, David Barnea, dilaporkan tiba di Florida pada Jumat (16/1) untuk bertemu utusan khusus AS, Steve Witkoff. Pertemuan ini fokus membahas kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.
Namun, laporan The New York Times mengungkap adanya dinamika internal yang mengejutkan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru dilaporkan meminta Presiden Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer tersebut pada Rabu lalu.
Israel khawatir Iran akan memanfaatkan penundaan ini untuk memperkuat posisi pertahanan mereka.
Aksi protes yang bermula dari keluhan ekonomi ini berubah menjadi tragedi nasional, terutama pada puncaknya tanggal 8 dan 9 Januari. Kerusuhan mengakibatkan kerusakan masif pada fasilitas umum hingga tempat ibadah.
Data dari lembaga hak asasi manusia HRANA mencatat jumlah total korban jiwa mencapai 2.677 orang, yang terdiri dari:
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa meski sekitar 800 rencana eksekusi mati telah dihentikan, Washington tidak akan tinggal diam.
"Semua opsinya tetap di atas meja," ujar Leavitt, menegaskan posisi siaga Presiden Donald Trump. (Ndf/Ant/I-1)
Presiden Donald Trump menyatakan Iran ingin membuat kesepakatan nuklir baru. Ia memperingatkan Teheran akan "bodoh" jika menolak tawaran tersebut.
AS dinilai tidak lagi memiliki kapasitas sebagai mediator yang kredibel dalam forum Board of Peace (BoP) karena dianggap terlalu berpihak pada kepentingan Israel.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
Iran menolak pembatasan misil dari AS meski siap lanjut negosiasi. Teheran menegaskan program rudal tak bisa ditawar di tengah tekanan Israel.
KETEGANGAN Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran memperingatkan akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika Donald Trump melancarkan aksi militer
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trumpmembahas perkembangan pembicaraan Amerika dengan Iran.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Situasi di berbagai kota besar Iran dilaporkan sunyi senyap menyusul tindakan keras mematikan dari otoritas keamanan setempat yang berhasil meredam gelombang protes besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved