Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Kondisi Iran Terkini: Sunyi Senyap Pasca-Tindakan Keras dan Bayang-bayang Ancaman AS

Khoerun Nadif Rahmat
17/1/2026 14:03
Kondisi Iran Terkini: Sunyi Senyap Pasca-Tindakan Keras dan Bayang-bayang Ancaman AS
Orang-orang berpartisipasi dalam demonstrasi di Teheran, Iran, pada 12 Januari 2026.(Xinhua)

SITUASI di berbagai kota besar Iran dilaporkan sunyi senyap menyusul tindakan keras mematikan dari otoritas keamanan setempat yang berhasil meredam gelombang protes besar dalam beberapa pekan terakhir. 

Ketenteraman yang tampak di permukaan ini terjadi di tengah laporan penangkapan massal lanjutan serta bayang-bayang ancaman intervensi militer Amerika Serikat.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa aparat keamanan kembali melakukan penangkapan massal pada Jumat (16/1). Meski demikian, sejak awal pekan, laporan mengenai potensi serangan langsung Amerika Serikat terhadap Iran mulai mereda.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu menyatakan menerima laporan bahwa intensitas pembunuhan di Iran mulai menurun. Penurunan ketegangan ini disebut merupakan hasil diplomasi intensif yang dilakukan sejumlah sekutu AS, termasuk Arab Saudi dan Qatar, guna mencegah eskalasi militer yang dikhawatirkan dapat mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, Gedung Putih tetap menyampaikan peringatan keras kepada Teheran. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Presiden memahami terdapat sekitar 800 rencana eksekusi mati yang telah dihentikan, tetapi Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika kekerasan kembali meningkat.

“Semua opsinya tetap di atas meja,” ujar Leavitt, dikutip dari Al Arabiya.

Gelombang protes di Iran pertama kali pecah pada 28 Desember lalu, dipicu lonjakan inflasi dan memburuknya kondisi ekonomi akibat sanksi internasional. Dalam waktu singkat, aksi-aksi tersebut berkembang menjadi tantangan terbuka terhadap kemapanan rezim ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

Meski pemerintah memberlakukan pemutusan akses internet secara luas, sejumlah warga Teheran menyebut ibu kota telah berada dalam kondisi sunyi sejak Minggu. Drone militer dilaporkan terus berpatroli di udara untuk memastikan tidak ada kerumunan massa, termasuk pada Kamis dan Jumat.

Laporan Korban: Angka Kematian Mencapai Ribuan

Kelompok hak asasi manusia Hengaw mengonfirmasi bahwa kerumunan demonstran telah menghilang dari jalan-jalan kota. Namun, mereka menekankan bahwa situasi tersebut terjadi di bawah pengawasan keamanan yang sangat ketat.

“Sumber independen kami mengonfirmasi kehadiran militer dan aparat keamanan dalam jumlah besar di kota-kota yang sebelumnya menjadi pusat protes, serta di sejumlah wilayah lain,” demikian pernyataan Hengaw.

Meski secara umum situasi tampak tenang, kekerasan sporadis masih dilaporkan terjadi. Hengaw mencatat seorang perawat perempuan tewas akibat tembakan langsung pasukan pemerintah di Karaj. Sementara itu, media Tasnim melaporkan adanya pembakaran kantor dinas pendidikan di wilayah Falavarjan oleh kelompok perusuh.

Seorang warga lanjut usia di wilayah barat laut Iran menggambarkan kengerian yang terjadi pada fase awal protes. “Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya,” ujarnya, seperti dikutip Hengaw.

Lembaga hak asasi manusia HRANA mencatat jumlah korban tewas dalam rangkaian kerusuhan kali ini telah mencapai 2.677 orang, terdiri dari 2.478 demonstran dan 163 aparat pemerintah. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah protes di Iran.

  • Total Korban Jiwa: 2.677 orang.
  • Demonstran: 2.478 orang.
  • Aparat Pemerintah: 163 orang.

Pihak kepolisian Iran melalui saluran Press TV mengklaim bahwa ketenangan telah pulih di seluruh negeri. Namun, keberadaan aparat bersenjata lengkap di berbagai titik strategis menunjukkan bahwa kesunyian yang terjadi saat ini masih berada di bawah kendali keamanan yang sangat ketat. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya