Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Rupiah Menguat 86 Poin Efek Pernyataan Donald Trump

Media Indonesia
10/3/2026 16:48
Rupiah Menguat 86 Poin Efek Pernyataan Donald Trump
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026).(Antara/Muhammad Adimaja)

NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Penguatan mata uang rupiah ini dipicu oleh optimisme pasar menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut konflik dengan Iran akan segera berakhir.

Berdasarkan data pasar pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa sore, rupiah bergerak menguat 86 poin atau 0,51 persen menjadi 16.863 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang tercatat di level 16.949 per dolar AS.

Dampak Pernyataan Donald Trump ke Pasar Keuangan

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan penguatan rupiah sangat dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik geopolitik di Timur Tengah.

"Pernyataan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan yang sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi global serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia," ujar Amru di Jakarta, Selasa (10/3).

Mengutip laporan Kyodo, Donald Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran yang saat ini masih berlangsung diperkirakan akan segera berakhir. Meski demikian, ia membantah bahwa penyelesaian total akan terjadi dalam pekan ini.

Suksesi Kepemimpinan Iran di Tengah Konflik

Pernyataan optimis Trump muncul di tengah situasi politik Iran yang memanas. Iran baru saja memilih Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Mojtaba menggantikan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, yang gugur dalam gelombang pertama serangan gabungan AS-Israel.

Mojtaba Khamenei dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Terpilihnya Mojtaba sempat menimbulkan kekhawatiran global bahwa perang yang memasuki pekan kedua ini akan semakin menggoyahkan kawasan Timur Tengah.

Trump sendiri mengaku kecewa dengan terpilihnya pemimpin baru tersebut. "Kami pikir ini hanya akan menyebabkan masalah yang sama untuk negara ini," kata Trump, meski ia tetap mengeklaim AS mencapai keberhasilan militer yang signifikan.

Analisis Teknis: Indeks Dolar dan Kebijakan The Fed

Dari sisi teknis, Amru menjelaskan bahwa koreksi pada indeks dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.

Namun, pasar tetap waspada terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika data inflasi dan pasar tenaga kerja AS tetap solid, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer) akan kembali meningkat, yang berpotensi memperkuat kembali dolar AS.

"Lonjakan harga energi juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memicu tekanan inflasi domestik. Apabila konflik geopolitik berlangsung jangka panjang, volatilitas pasar keuangan global bisa memicu arus modal keluar (capital outflow)," pungkas Amru.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa (10/3) juga mencatatkan penguatan ke level Rp16.879 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya di Rp16.974 per dolar AS. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya