Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.000 akibat Konflik Iran-Israel dan Minyak

Media Indonesia
09/3/2026 21:48
Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.000 akibat Konflik Iran-Israel dan Minyak
(MI/Usman Iskandar)

NILAI tukar mata uang rupiah saat ini berada dalam tekanan besar dan berisiko terus melemah jika ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak segera mereda. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), posisi rupiah sempat menyentuh angka 16.990 per dolar AS, bertepatan dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia hingga menembus level US$100 per barel.

Ketidakpastian Politik di Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa proses suksesi kepemimpinan di Iran menjadi faktor krusial yang menambah ketidakpastian global. Pergantian kepemimpinan yang berlangsung di tengah berkecamuknya perang dan pembelahan elit politik di Iran menciptakan sentimen negatif di pasar uang.

Figur Mojtaba Khamenei yang dipandang memiliki garis keras dan dekat dengan Garda Revolusi Iran membuat pasar cenderung bersikap defensif. "Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat," ujar Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin (9/3).

Strategi Bank Indonesia dan Kekuatan Cadangan Devisa

Meskipun tekanan eksternal sangat kuat, Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah stabilisasi untuk mencegah pelemahan rupiah yang berlangsung secara tidak teratur. Langkah ini dinilai penting untuk meredam kepanikan pasar meski belum cukup kuat untuk membalikkan arah tren selama faktor geopolitik masih memanas.

Sebagai informasi, pada Februari lalu BI masih menahan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 4,75% dengan fokus utama pada stabilisasi nilai tukar. Amunisi Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar dinilai masih memadai dengan posisi cadangan devisa per akhir Februari 2026 mencapai US$151,9 miliar.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor. Namun, Josua mengingatkan bahwa penggunaan cadangan devisa harus dilakukan secara terukur. "Fungsinya adalah meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu terus-menerus ketika tekanan eksternal masih besar," jelasnya.

Dampak Harga Minyak dan Risiko Inflasi Domestik

Kenaikan harga minyak dunia yang sempat menguji level US$120 per barel akibat gangguan jalur pengiriman di Selat Hormuz menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional. Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka pendek mungkin masih tertahan karena komitmen pemerintah untuk menambah subsidi energi hingga masa Lebaran 2026.

Inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat berada di level 4,76%. Pemerintah terus memantau pergerakan harga komoditas global untuk menjaga daya beli masyarakat.

Namun, jika konflik ini berkepanjangan hingga berbulan-bulan, tekanan dipastikan akan merambat ke sektor logistik, biaya angkutan, hingga harga pangan. "Risiko ini perlu diwaspadai karena tekanan harga domestik bisa meningkat dan melemahkan daya beli rumah tangga secara signifikan," pungkas Josua.

People Also Ask (FAQ)

  • Mengapa Rupiah melemah hari ini? Rupiah melemah dipicu oleh ketegangan geopolitik Iran-Israel dan lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel.
  • Berapa cadangan devisa Indonesia saat ini? Per Februari 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$151,9 miliar.
  • Apa dampak konflik Iran-Israel bagi ekonomi Indonesia? Dampak utamanya adalah tekanan pada nilai tukar rupiah, potensi kenaikan inflasi akibat harga minyak, dan keluarnya modal asing dari pasar domestik. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya