Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Rupiah Hari Ini 10 Maret 2026: Dibuka Menguat, masih Dibayangi Timur Tengah

Andhika Prasetyo
10/3/2026 10:22
Rupiah Hari Ini 10 Maret 2026: Dibuka Menguat, masih Dibayangi Timur Tengah
ilustrasi(Antara)

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa di Jakarta bergerak menguat 63 poin atau 0,37% menjadi Rp16.886 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.949 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas karena pasar tetap sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia. Menurutnya, pada perdagangan hari ini rupiah masih berpotensi mengalami tekanan meskipun pelemahannya diperkirakan berada dalam rentang Rp16.825 hingga Rp16.975 per dolar AS.

“Level Rp17.000 per dolar AS kini menjadi batas psikologis penting, karena sejumlah proyeksi pasar juga menempatkan level tersebut sebagai ambang tekanan terdekat jika sentimen belum membaik,” kata Josua di Jakarta.

Sentimen Global Tekan Rupiah

Josua menjelaskan bahwa faktor global masih menjadi tekanan utama bagi rupiah. Konflik di Timur Tengah atau Asia Barat mendorong lonjakan harga minyak yang sempat menembus 115 dolar AS per barel pada sesi perdagangan Asia dan kembali berada di atas 100 dolar AS per barel pada Senin (9/3).

Dalam situasi ketidakpastian global, dolar AS cenderung menguat karena dianggap sebagai aset yang lebih aman. Kondisi ini juga diperparah dengan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat.

Di kawasan Asia, tren yang terjadi relatif seragam, yakni pelemahan mata uang regional akibat kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Tekanan dari Faktor Domestik

Dari dalam negeri, rupiah juga mendapat tekanan dari sejumlah indikator ekonomi. Defisit anggaran pada Februari 2026 tercatat melebar menjadi 0,50 persen dari produk domestik bruto (PDB). Selain itu, imbal hasil surat utang negara meningkat, kepemilikan investor asing terhadap surat utang negara menurun, serta tingkat keyakinan konsumen menunjukkan sedikit pelemahan. Meski demikian, Bank Indonesia dinilai masih berupaya menjaga stabilitas nilai tukar dengan memprioritaskan kebijakan yang mendukung penguatan rupiah.

“Bank Indonesia masih fokus menjaga stabilitas rupiah, sehingga ruang untuk penurunan suku bunga relatif terbatas,” tutur Josua.

Josua menilai apabila konflik geopolitik berlangsung lebih lama, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat. Perang yang berkepanjangan dapat menyebabkan harga energi bertahan tinggi, meningkatkan biaya impor dan logistik, serta memperbesar tekanan inflasi domestik. Selain itu, kondisi tersebut juga berisiko memperlemah neraca eksternal dan fiskal, serta menahan arus masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

Jika skenario tersebut terjadi, rupiah berpotensi menembus level Rp17.000 per dolar AS dan bertahan pada posisi lemah dalam waktu lebih lama. Dalam situasi seperti itu, Bank Indonesia kemungkinan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan dan menjaga kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas nilai tukar.

“Arah rupiah ke depan sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu lamanya konflik berlangsung dan apakah harga minyak dapat kembali turun secara meyakinkan,” tandas Josua. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya