Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Rupiah Sore ini 19 Februari 2026 Melemah Dipicu Risalah The Fed

Media Indonesia
19/2/2026 17:34
Rupiah Sore ini 19 Februari 2026 Melemah Dipicu Risalah The Fed
Warga memperlihatkan uang rupiah hasil penukaran pada Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di halaman Masjid Suada Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (19/2/2026). Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Bar(Antara/Akbar Tado)

NILAI tukar mata uang rupiah pada penutupan pasar uang di Jakarta, Kamis (19/2/2026), bergerak melemah tipis. Rupiah ditutup turun 10 poin atau 0,06 persen ke posisi 16.894 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 16.884 per dolar AS.

Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang juga terkoreksi ke level Rp16.925 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya di posisi Rp16.884 per dolar AS.

Dampak Risalah The Fed Terhadap Mata Uang Rupiah

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan mata uang rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh rilis risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) periode Januari. Risalah tersebut mengungkap ada perdebatan di antara pejabat bank sentral AS mengenai arah kebijakan suku bunga.

“Risalah tersebut menyoroti perbedaan pendapat mengenai apakah kenaikan suku bunga lebih lanjut masih diperlukan. Meskipun para pembuat kebijakan sepakat risiko inflasi masih tinggi, mereka berbeda pandangan soal seberapa ketat kebijakan harus diterapkan,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

Kondisi ini membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi mereka terhadap pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Saat ini, kontrak berjangka dana Fed menunjukkan kemungkinan penurunan bunga baru akan terjadi pada Juni 2026.

Menanti Data PCE AS dan Sentimen Geopolitik

Investor kini dalam posisi wait and see menantikan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang akan dirilis pada Jumat (20/2). Data ini merupakan indikator inflasi favorit The Fed yang akan menjadi rujukan utama arah kebijakan moneter ke depan.

Selain faktor ekonomi, tekanan terhadap mata uang rupiah juga dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan menggunakan kekuatan militer jika jalur diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran.

Analisis Risiko: Peningkatan aktivitas militer di kawasan Teluk telah memperkuat persepsi pasar mengenai kerentanan pasokan energi dunia, yang pada gilirannya memicu penguatan dolar AS sebagai aset aman.

Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa minimnya progres perdamaian dalam konflik Rusia-Ukraina semakin memperburuk risiko keamanan global. Harapan pasar akan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia yang kian memudar turut memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan berbagai tekanan global tersebut, pergerakan mata uang rupiah diprediksi masih akan fluktuatif dalam beberapa hari ke depan menunggu kepastian data ekonomi dari Amerika Serikat. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya