Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Kurs Rupiah Melemah 7 Poin akibat Blokade Selat Hormuz dan Harga Minyak

Media Indonesia
12/3/2026 17:18
Kurs Rupiah Melemah 7 Poin akibat Blokade Selat Hormuz dan Harga Minyak
Ilustrasi.(Freepik)

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/3/2026) sore. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur pasokan energi global.

Data pasar menunjukkan rupiah melemah 7 poin atau 0,04 persen ke level 16.893 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 16.886 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke level 16.899 per dolar AS.

Blokade Selat Hormuz dan Kenaikan Harga Minyak

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen negatif utama berasal dari laporan gangguan distribusi minyak di kawasan Teluk. Harga minyak dunia dilaporkan sempat meroket melewati ambang batas US$100 per barel setelah munculnya laporan serangan terhadap kapal tanker internasional.

"Dua kapal tanker minyak internasional dilaporkan telah dihantam di dekat Irak. Selain itu, Oman mulai mengevakuasi terminal ekspor minyak utama, sementara Iran terlihat memblokade Selat Hormuz yang merupakan jalur pasokan bagi sekitar seperlima minyak dunia," ungkap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta.

Peringatan Inflasi: Kenaikan harga sektor energi secara langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi jangka panjang. Kondisi ini berpotensi memaksa bank sentral dunia untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif.

Sentimen Ekonomi Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi dari Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS bulan Februari 2026 tercatat meningkat 0,3 persen secara bulanan (month-on-month/mom), naik dari angka 0,2 persen pada bulan sebelumnya.

Meskipun angka inflasi tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, ketidakpastian tetap tinggi. Investor kini mengalihkan fokus sepenuhnya pada data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan rilis pada Jumat (13/3/2026).

"Data PCE merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve. Angka ini akan menjadi faktor penentu dalam ekspektasi kebijakan suku bunga AS ke depan," tambah Ibrahim.

Proyeksi Pasar ke Depan

Ketegangan militer antara AS-Israel dengan Iran yang terus berlanjut, meskipun ada klaim perdamaian dari Presiden Donald Trump, membuat investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Hal ini diprediksi akan terus memberikan tekanan bagi mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah.

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memantau volatilitas ini, mengingat kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel dapat memberikan dampak rambatan pada beban subsidi energi domestik dan stabilitas inflasi nasional sepanjang tahun 2026. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya