Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Dampak Selat Hormuz Ditutup : Krisis Energi Global 2026 dan Ekonomi RI

Media Indonesia
01/3/2026 20:01
Dampak Selat Hormuz Ditutup : Krisis Energi Global 2026 dan Ekonomi RI
Frank Rohrig / US AIR FORCE / AFP(US Air Force (USAF) shows an A-10 Thunderbolt II di atas Selat Hormuz)

SELAT Hormuz merupakan jalur laut paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Eskalasi ketegangan di kawasan ini kembali menempatkan ekonomi global dalam risiko besar. Jika Selat Hormuz ditutup, berikut dampak yang akan terjadi:

1. Lonjakan Harga Minyak Dunia di Atas US$100

Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Penutupan jalur secara total diprediksi akan membuat harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam melampaui US$100 hingga US$150 per barel. Hal ini disebabkan oleh hilangnya pasokan mendadak sebesar 20-21 juta barel per hari yang tidak dapat digantikan oleh produsen lain dalam waktu singkat.

Catatan Penting: Selain minyak, sekitar 20% pasokan Gas Alam Cair (LNG) dunia, terutama dari Qatar, juga melintasi jalur ini. Gangguan pada Selat Hormuz berarti krisis energi ganda (minyak dan gas) bagi pasar global.

2. Dampak bagi Ekonomi Indonesia

Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, akan menghadapi tekanan besar:

  • Beban Subsidi Membengkak: Kenaikan harga minyak dunia akan memaksa pemerintah menambah alokasi subsidi BBM dan listrik dalam APBN 2026.
  • Tekanan Nilai Tukar: Ketidakpastian global cenderung membuat investor beralih ke aset aman (safe haven), yang berpotensi melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap Mata Uang Rupiah terhadap Dolar AS hingga mendekati Rp17.000.
  • Inflasi Barang Konsumsi: Kenaikan biaya logistik akibat naiknya harga bahan bakar akan mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, mulai dari pangan hingga material bangunan.

3. Kelumpuhan Pasokan Energi di Asia

Negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan adalah tujuan utama (sekitar 80%) dari minyak yang melewati Selat Hormuz. China, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, mengimpor hampir setengah dari kebutuhan minyak mentahnya melalui jalur ini. Penutupan selat akan mengganggu rantai pasok industri manufaktur global secara masif.

4. Keterbatasan Jalur Alternatif

Meskipun terdapat jalur pipa bypass di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kapasitasnya tidak memadai:

Jalur Alternatif Kapasitas Estimasi Status
Pipa Timur-Barat (Arab Saudi) ~5 Juta Barel/Hari Terbatas
Pipa Abu Dhabi (UEA) ke Fujairah ~1.5 Juta Barel/Hari Aktif

Total kapasitas jalur alternatif hanya mampu menampung sekitar 15-20% dari volume yang biasa melewati Selat Hormuz, sehingga tidak cukup untuk meredam krisis global. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya