Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Target Pertumbuhan Ekonomi 2026 Dinilai Ambisius, ini Catatan Indef

Ihfa Firdausya
15/2/2026 17:52
Target Pertumbuhan Ekonomi 2026 Dinilai Ambisius, ini Catatan Indef
Pemulung mengumpulkan botol bekas di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).(MI/AGUNG WIBOWO)

AMBISI Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026 dinilai sebagai sesuatu yang masih mungkin digapai. Keyakinan Purbaya didasarkan pada perbaikan iklim investasi serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang tengah dilakukan.

"Target pertumbuhan hingga 6% pada 2026 secara teori masih possible, tetapi dalam kondisi sekarang lebih tepat disebut ambisius," kata Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman saat dimintai tanggapan, Minggu (15/2).

Ia memaparkan, data terakhir menunjukkan ekonomi 2025 hanya tumbuh sekitar 5,11%. Sementara indikator permintaan domestik justru melemah. 

Contohnya porsi pendapatan untuk konsumsi turun (APC ±72%), kelas menengah menyusut, dan transmisi ke sektor riil tertahan oleh mahalnya biaya modal (yield SBN relatif tinggi efek dari bunga kredit tidak cepat turun).

"Artinya, masalah utama Indonesia saat ini bukan lagi sekadar kurang stimulus, melainkan mesin pertumbuhan tidak cukup kuat secara struktural. Jadi tanpa perubahan kebijakan, baseline pertumbuhan realistisnya masih di kisaran 5,0-5,3%," kata Rizal.

Menurutnya, ada tiga PR besar untuk mengejar pertumbuhan 6% tahun ini. Pertama, memulihkan daya beli karena konsumsi rumah tangga sekitar 53% dari produk domestik bruto (PDB).

"Bukan hanya bansos jangka pendek tetapi stabilitas harga pangan dan kualitas pekerjaan," ujarnya.

Kedua, menghidupkan investasi swasta, terutama manufaktur. Hal itu bisa dilakukan lewat kepastian regulasi, pembiayaan lebih murah, dan proyek pemerintah yang crowd-in, bukan crowd-out.

PR ketiga adalah produktivitas tenaga kerja yakni mismatch tenaga kerja, deindustrialisasi dangkal, dan ekspor manufaktur stagnan. Hal itu membuat setiap tambahan belanja negara tidak otomatis menaikkan output.

"Intinya, pertumbuhan 6% baru realistis jika ekonomi bergeser dari 'growth by spending' menjadi growth by production dan investment. Tanpa itu, belanja besar hanya menaikkan PDB sementara, bukan kapasitas ekonomi," pungkasnya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya