Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Iran: 3.000 "Teroris" Ditangkap Pasca-Kerusuhan Massal

Irvan Sihombing
17/1/2026 14:15
Iran: 3.000
Sebuah spanduk raksasa terlihat di Alun-Alun Enghelab di Teheran, Iran, Kamis (15/1/2026).(Anadolu)

OTORITAS keamanan Iran mengumumkan telah menahan sedikitnya 3.000 orang berstatus "teroris" dan terlibat dalam "kerusuhan" massal yang mengguncang negeri tersebut. 

Berdasarkan laporan kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, pada Jumat (16/1), ribuan tahanan tersebut mencakup para pemimpin utama kerusuhan, individu yang dituduh berafiliasi dengan Israel, serta kelompok bersenjata yang merusak fasilitas umum.

Pihak berwenang mengeklaim situasi kini relatif tenang, meskipun mereka tetap mewaspadai upaya-upaya untuk menyulut kembali ketegangan. Pemerintah Iran secara tegas menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas gelombang protes yang awalnya dipicu oleh depresiasi tajam mata uang rial Iran pada akhir Desember lalu.

Ketika Iran mengeklaim telah mengendalikan situasi di dalam negeri, ketegangan di level internasional justru memanas. Kepala Badan Intelijen Israel (Mossad), David Barnea, dilaporkan tiba di Florida, Amerika Serikat, pada Jumat (16/1).

Berdasarkan laporan Axios, Barnea dijadwalkan bertemu dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff. Fokus utama pertemuan ini adalah konsultasi mengenai Iran, termasuk pembahasan mengenai kemungkinan serangan militer AS.

Menariknya, meskipun para pejabat Israel meyakini serangan bisa terjadi dalam waktu dekat, muncul laporan adanya tarik-ulur diplomatik:

  •     Kekhawatiran Israel: Iran dianggap memanfaatkan penundaan serangan untuk memperkuat posisi dan meredakan tekanan Washington.
  •     Permintaan Netanyahu: The New York Times melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru meminta Presiden AS Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer tersebut pada Rabu lalu.

Kronologi: Dari Protes Damai Menjadi Tragedi Nasional

Aksi protes yang semula damai dan berfokus pada keluhan ekonomi, berubah menjadi kekerasan mematikan pada 8 dan 9 Januari. Kerusuhan tersebut mengakibatkan kerusakan masif pada gedung pemerintah, masjid, dan bank.

Hingga saat ini, data dari lembaga hak asasi manusia HRANA mencatat jumlah korban tewas telah mencapai 2.677 orang. Angka ini mencakup:

  •     2.478 demonstran
  •     163 aparat pemerintah

Meskipun Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa sekitar 800 rencana eksekusi mati telah dihentikan, ia menegaskan posisi AS tetap waspada. "Semua opsinya tetap di atas meja," ujarnya, merujuk pada sikap Presiden Donald Trump yang terus memantau situasi pertumbahan darah di Iran. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya