Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBANGUN kedekatan emosional antara orangtua dan anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama. Psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan, menekankan bahwa kualitas interaksi jauh lebih penting daripada durasi pertemuan.
Menurut Sani, bagi orangtua yang sibuk bekerja, meluangkan waktu singkat namun intensif jauh lebih bermanfaat bagi keterikatan emosional (emotional attachment) anak.
“Kadang orangtua sekarang bekerja, itu susah sekali mencari waktu satu jam bersama setiap harinya. Tapi dengan 15 menit saja bersama berkualitas, bisa berbagi cerita, ketawa, memeluk, itu lebih bagus kedekatannya atau manfaat emotional attachment-nya,” ujar Sani, dikutip Minggu (29/3).
Sani menyarankan agar kebiasaan berkomunikasi dibangun sejak anak masih kecil. Hal ini bertujuan agar ruang dialog tetap terbuka hingga anak menginjak usia remaja maupun dewasa.
Dalam membangun dialog tersebut, orangtua diharapkan dapat:
Meski idealnya dimulai sejak dini, Sani menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan.
“Yang terpenting adalah niat baik untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan,” tuturnya.
Alih-alih melarang penggunaan teknologi, Sani menilai gawai justru bisa menjadi alat bantu untuk mempererat hubungan jika digunakan bersama. Aktivitas seperti bermain gim atau menonton film dapat menjadi sarana diskusi yang interaktif.
“Yang jelas ada komunikasi membahas hal itu, sehingga tidak hanya mainnya, tapi lebih ke arah kedekatan secara emosional dan membangun hubungan dua arah tadi melalui gawai sebagai materialnya atau tools-nya gitu, sebagai medianya,” imbuh Sani.
Selain aktivitas digital, orangtua juga bisa beralih ke permainan konvensional seperti ular tangga, catur, atau petak umpet untuk menciptakan momen kebersamaan yang nyata.
Pesan ini sejalan dengan kampanye #SatuJamBerkualitas yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang mengajak keluarga Indonesia untuk lebih hadir secara utuh bagi anak-anak di tengah kepungan arus media sosial. (Ant/Z-1)
Sejumlah orangtua pun mendukung PP Tunas, salah satunya Mia Santani, 36. Namun ada sejumlah catatan.
PP Tunas dapat menjadi tameng bagi orangtua untuk menjaga anak mereka akan bahaya penggunaan media sosial secara berlebih.
ANAK yang terbiasa mengandalkan gawai dalam kehidupan sehari-hari berisiko menunjukkan reaksi emosional berlebihan (tantrum) saat penggunaannya dibatasi oleh orangtua.
PP TUNAS adalah jawaban atas kekhawatiran kalangan medis terhadap dampak negatif media sosial bagi tumbuh kembang anak.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved