Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MASA transisi dari libur panjang kembali ke rutinitas sekolah sering kali memicu fenomena post holiday blues pada anak-anak. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya semangat hingga perubahan emosi yang drastis saat harus kembali ke bangku kelas.
Psikolog klinis anak dan remaja lulusan Universitas Padjajaran, Michelle Brigitta Shanny M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa orangtua memegang peran kunci dalam membantu anak melewati masa transisi ini. Salah satu cara efektif adalah dengan melibatkan anak secara langsung dalam persiapan hari pertama sekolah.
"Orangtua kalau bisa mulai ajak ngobrol anak hal-hal apa sih yang dia kangen dari sekolah. Diingatkan lagi kegiatan sekolah misalnya teman, guru, atau aktivitas kesukaan anak. Bisa juga melibatkan mereka dalam persiapan seperti menyiapkan tas, alat tulis, dan buku," ujar Michelle.
Menurut Michelle, orangtua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak menjelang hari pertama sekolah. Gejala yang muncul biasanya tidak hanya fisik, tetapi juga emosional.
| Kategori Gejala | Ciri-ciri yang Muncul |
|---|---|
| Perilaku | Kurang bersemangat, mencari-cari alasan untuk tidak masuk sekolah. |
| Emosional | Menjadi lebih sedih, mudah marah, atau sensitif. |
| Durasi | Bersifat sementara selama masa transisi. |
Meski terlihat mengkhawatirkan, Michelle menegaskan bahwa kondisi ini bisa diatasi dengan pengaturan jadwal yang bertahap. Ia menyarankan agar orang tua mulai mengembalikan ritme kebiasaan sekolah setidaknya seminggu sebelum hari pertama masuk.
Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain:
Dengan pendampingan yang tepat dan komunikasi yang terbuka, anak akan merasa tetap memiliki momen berkualitas bersama orang tua meskipun masa libur telah usai. Hal ini diharapkan dapat membuat anak menjalani hari-hari sekolah dengan perasaan yang lebih senang dan tenang. (Ant/Z-1)
Guru Besar Psikologi UI Prof. Rose Mini membagikan tips jitu mengatasi post holiday blues agar kembali produktif bekerja dengan cara berpikir positif.
Post holiday blues biasanya ditandai dengan perasaan cemas sementara, sedih, rendahnya motivasi, hingga hilangnya semangat saat harus beralih dari suasana liburan ke rutinitas harian.
Fenomena post holiday blues atau penurunan suasana hati merupakan hal yang wajar.
Post holiday blues merupakan kondisi emosional sementara yang muncul tepat setelah periode libur atau perayaan berakhir.
Perbedaan paling mencolok dari burnout dan post holiday blues terletak pada dampak emosional dan sikap individu terhadap tanggung jawabnya.
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved