Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Cara Mengatasi Post Holiday Blues dengan Berpikir Positif

Basuki Eka Purnama
31/3/2026 11:10
Cara Mengatasi Post Holiday Blues dengan Berpikir Positif
Ilustrasi(Freepik)

KEMBALI ke rutinitas pekerjaan setelah masa libur panjang sering kali memicu kecemasan atau yang dikenal dengan istilah post holiday blues. Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim (Romy), menyebutkan bahwa kondisi tersebut dapat dikendalikan dengan menggeser pola pikir ke arah yang lebih positif.

Post holiday blues biasanya ditandai dengan perasaan cemas sementara, sedih, rendahnya motivasi, hingga hilangnya semangat saat harus beralih dari suasana liburan yang menyenangkan kembali ke rutinitas harian yang monoton.

“Untuk menghindari holiday blues ini, kita harus tahu bahwa di dalam kehidupan kita di kantor enggak semuanya merasa enggak nyaman, karena apa kita bisa ketemu teman-teman kantor, kita lihat di weekend masih bisa pergi dengan keluarga jalan-jalan dan sebagainya,” ujar Romy, Selasa (31/3).

Manajemen Beban Kerja

Romy mengakui bahwa penumpukan pekerjaan setelah liburan adalah hal yang sulit dihindari. Namun, untuk mencegah beban pikiran yang berlebih, ia menyarankan agar pekerja mulai menyusun skala prioritas. 

Dengan menentukan pekerjaan mana yang harus segera diselesaikan dan mana yang bisa ditunda, tekanan mental dapat berkurang.

Selain aspek teknis pekerjaan, persiapan fisik dan mental sebelum mulai bekerja juga sangat penting. Romy menyarankan untuk menyisihkan waktu istirahat yang cukup atau mengambil jeda beberapa hari guna membiasakan diri kembali dengan rutinitas pagi.

“Hal itu membuat kita kemudian jadi terbiasa lagi untuk melakukan hal-hal yang terbiasa kita lakukan, sehingga tidak tiba-tiba harus kemudian bangunnya pagi, nah dengan demikian secara gradually kita bisa menyesuaikan diri,” katanya.

Sudut Pandang yang Bermakna

Lebih lanjut, Romy menekankan bahwa pengalaman selama liburan maupun mudik tidak selalu berjalan mulus. Kendala saat perjalanan atau interaksi keluarga saat silaturahmi mungkin saja terjadi. Namun, dengan sudut pandang yang positif, momen kebersamaan tersebut akan terasa lebih bermakna.

“Jadi tergantung dari cara manusia berpikir, kalau mau dilihat negatif semua negatif, tapi kalau kita lihat dari sesuatu yang kita hadapi ada sisi positifnya itu kemudian menjadi lebih menyegarkan untuk kita juga,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya