Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Mengenal Post Holiday Blues: Gejala dan Batas Wajarnya Usai Libur Panjang

 Gana Buana
05/1/2026 21:38
Mengenal Post Holiday Blues: Gejala dan Batas Wajarnya Usai Libur Panjang
Motivasi kerja menurun usai liburan, ini namanya Post Holiday Blues.(Antara)

 

Jakarta, Media Indonesia – Momen kembali ke rutinitas harian usai menikmati libur panjang seringkali menjadi tantangan berat bagi sebagian orang. Perasaan lesu, sedih, hingga hilangnya semangat bekerja atau bersekolah ini dikenal dengan istilah post holiday blues.

Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah gangguan mental, melainkan sebuah respons adaptif alami tubuh dan pikiran saat menghadapi peralihan suasana.

"Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran," ujar Virginia di Jakarta, Senin (5/1).

Gejala yang Perlu Dikenali

Lulusan Universitas Padjadjaran ini memaparkan bahwa gejala post holiday blues bisa bervariasi pada setiap individu. Tanda yang paling umum meliputi perasaan hampa tanpa sebab yang jelas, murung, serta menurunnya motivasi secara drastis untuk memulai kembali aktivitas produktif.

Secara fisik dan emosional, gejalanya dapat berupa:

  • Mudah merasa lelah dan lesu.
  • Sulit berkonsentrasi pada pekerjaan atau pelajaran.
  • Mengalami gangguan pola tidur.
  • Mudah tersinggung (iritabel).
  • Muncul kecemasan saat memikirkan kewajiban yang menumpuk.
  • Perasaan 'belum siap' mental untuk kembali ke realitas.

Batas Wajar dan Tanda Bahaya

Virginia yang berpraktik di lembaga Personal Growth menekankan bahwa kondisi ini umumnya bersifat sementara. Secara wajar, fase adaptasi ini berlangsung selama beberapa hari hingga satu atau dua minggu. Seiring berjalannya waktu, suasana hati (mood) dan energi biasanya akan pulih menyesuaikan ritme harian.

Namun, kewaspadaan diperlukan jika kondisi murung tersebut tak kunjung membaik dalam jangka waktu tertentu.

"Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu di akademik atau pekerjaan, karena bisa jadi mereka bukan lagi post holiday blues," tegasnya.

Jika durasi gejala melebihi dua minggu dan mulai menghambat produktivitas, Virginia menyarankan agar segera mencari bantuan profesional, baik ke psikolog klinis maupun psikiater untuk penanganan yang tepat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik