Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Mengapa Kita Sulit Mengatakan Tidak? Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah

Thalatie K Yani
09/12/2025 09:18
Mengapa Kita Sulit Mengatakan Tidak? Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
Ilustrasi(freepik)

PERIODE liburan seharusnya membawa kegembiraan, namun bagi banyak orang justru datang dengan tekanan sosial dan berbagai kewajiban yang tidak selalu diinginkan. Undangan pesta, permintaan bantuan, hingga ajakan menghadiri acara tertentu sering kali membuat kita merasa perlu menyetujui sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilakukan.

Perasaan tidak nyaman saat hendak menolak bisa muncul dalam bentuk fisik, seperti perut terasa kencang, mulut kering, atau detak jantung meningkat. Dr. Xand dan Dr. Chris van Tulleken, pembawa acara podcast kesehatan BBC What’s Up Docs, mengaku kerap merasakan hal tersebut.

“Kami berdua sering mengalami suara yang bergetar. Sangat sulit untuk berkata, ‘sebenarnya, saya tidak ingin melakukan hal yang kamu minta. Saya tidak ingin mengikuti sesuatu hanya karena semua orang melakukannya,’” ujar Dr. Xand dalam podcast tersebut.

Menurutnya, belajar merasa nyaman mengatakan tidak adalah langkah awal untuk mengambil kembali kendali atas hidup. “Baik Anda berusia delapan atau delapan puluh tahun, mengatakan tidak dan membela apa yang Anda yakini sangat penting bagi kesehatan mental,” tambahnya.

Tiga Pendekatan Menolak Permintaan

Ahli ilmu perilaku, Dr. Sunita Sah, menawarkan tiga pendekatan untuk membantu seseorang lebih mudah menolak permintaan.

1. Mengatakan Tidak Itu Wajar

Bagi banyak orang, menolak terasa tidak nyaman karena sejak kecil mereka diajarkan untuk patuh. “Kita mengaitkan kepatuhan dengan kebaikan dan ketidakpatuhan dengan keburukan,” kata Dr. Sah. Menurutnya, anak-anak banyak dilatih untuk patuh, tetapi mereka juga perlu diajarkan bagaimana menolak.

Ia menjelaskan mengatakan tidak seharusnya dipandang sebagai tindakan positif yang selaras dengan nilai diri. “Menolak berarti bertindak sesuai dengan nilai sejati Anda, terutama saat ada tekanan untuk melakukan sebaliknya.”

Untuk itu, mengenali nilai pribadi menjadi langkah penting. Nilai-nilai tersebut bisa berupa kata-kata tunggal seperti integritas, empati, atau kesetaraan. “Jika kita menuliskan nilai-nilai tersebut, penelitian menunjukkan kita lebih mungkin bertindak sejalan dengan nilai itu,” ujarnya.

2. Minta Waktu untuk Berpikir

Jika tidak perlu memberikan jawaban saat itu juga, meminta waktu adalah strategi yang sangat membantu. Frasa seperti “Biar saya pikirkan dulu” atau “Menarik, saya akan kembali memberi kabar” bisa memberi ruang untuk mempertimbangkan apa yang benar-benar diinginkan.

Menurut Dr. Sah, menciptakan jarak psikologis maupun fisik dari orang yang membuat permintaan dapat membantu seseorang menilai keputusan dengan lebih jernih. Keputusan yang diambil secara pribadi dan tanpa tekanan membuat seseorang lebih bebas mengubah pikirannya.

3. Latihan di Situasi Risiko Rendah

Bagi yang kesulitan menolak, latihan dalam situasi sederhana dapat menjadi langkah awal. Undangan tetangga, permintaan meminjam barang, atau ajakan berbicara dari tenaga penjual adalah contoh momen yang bisa dimanfaatkan.

“Ini bukan tindakan defiance yang glamor. Bukan seperti menghadapi atasan yang seksis atau rasis, tetapi tetap penting untuk melatih tindakan kecil demi melindungi diri,” kata Dr. Xand.

Dr. Sah menambahkan pengalaman menolak dalam situasi kecil dapat menjadi referensi ketika menghadapi situasi penting. Dengan demikian, seseorang akan lebih percaya diri untuk mengatakan tidak ketika hal tersebut berkaitan dengan nilai-nilai yang penting baginya. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik