Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Remaja usia 10–18 tahun kerap menghadapi tantangan kesehatan mental yang penting. Menurut dr. Enita Tiur Rohana, Sp.KJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSU Bunda Jakarta, terdapat tiga isu utama yang paling sering dialami oleh remaja dalam rentang usia ini.
Isu pertama yang paling umum terjadi adalah pencarian identitas diri. Pada masa remaja, anak mulai mengeksplorasi siapa dirinya, apa yang disukainya, orientasi hidup, hingga peran sosial yang ingin ia ambil di masyarakat. Masa ini merupakan tahapan penting dalam pembentukan jati diri seorang individu.
Isu kedua berkaitan dengan regulasi emosi. Secara biologis, otak remaja masih dalam tahap perkembangan, khususnya bagian prefrontal cortex yang berfungsi dalam pengambilan keputusan dan kontrol emosi. Hal ini menyebabkan remaja cenderung impulsif, lebih mengandalkan emosi dibanding logika saat merespons situasi.
"Logikanya masih berkembang, jadi secara kognitif belum matang. Karena itu, emosi sering kali mendominasi," ujar dr. Tiur dalam kanal YouTube RS Bunda Group, dikutip Sabtu (12/7).
Masalah ketiga adalah isu sosial, khususnya dalam konteks pertemanan dan interaksi dengan sahabat. Remaja mulai menempatkan nilai penting dalam relasi sosial, dan kelompok pertemanan menjadi bagian besar dari kehidupan mereka.
"Tiga isu ini—identitas diri, regulasi emosi, dan isu sosial—paling sering kami temukan di usia 10–18 tahun. Ini adalah periode yang sangat krusial," tambahnya.
Dr. Tiur menekankan pentingnya peran orang tua sejak dini, bahkan sejak anak masih dalam kandungan hingga usia 10 tahun. Pemenuhan nutrisi, stimulasi perkembangan, dan pola asuh yang sehat akan mempengaruhi kesiapan anak dalam menghadapi fase remaja.
Saat anak memasuki masa remaja, pola komunikasi orang tua juga perlu disesuaikan. Tidak lagi menggunakan pendekatan otoritatif, namun lebih kepada dialog dua arah.
"Kalau dulu anak bisa diarahkan secara langsung, remaja perlu diajak berdiskusi. Ganti pendekatannya jadi ‘menurut kamu bagaimana?’ dan cari solusi bersama," ujarnya.
Orang tua juga disarankan untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda awal gangguan mental. Kemampuan anak dalam bersosialisasi, mengelola emosi, dan berkomunikasi sejak usia dini bisa menjadi indikator penting.
Jika terlihat ada perbedaan mencolok atau perubahan perilaku, sebaiknya segera konsultasikan dengan profesional kesehatan jiwa.
Dr. Tiur menyarankan orang tua untuk menjadi ‘teman’ bagi anak remaja. Gunakan bahasa yang relevan dengan generasi mereka dan ciptakan komunikasi yang santai.
"Kenalan dulu dengan teman-teman anak, ikut ngobrol ringan, jangan melulu mengoreksi. Lama-kelamaan orang tua akan menyatu dengan dunia anak," jelasnya.
Jika cara ini masih sulit diterapkan, orang tua bisa meningkatkan pemahaman tentang tren dan isu remaja masa kini agar komunikasi lebih nyambung dan efektif. (Z-10)
Banyak yang salah kaprah, healing artinya sering disamakan dengan liburan. Padahal, maknanya berkaitan erat dengan pemulihan trauma dan kesehatan mental.
Ulasan mendalam Broken Strings oleh Aurelie Moeremans, perjalanan musik sang aktris, dan alasan mengapa karyanya begitu menyentuh hati.
Riset terbaru menunjukkan suhu bukan sekadar soal kenyamanan, tapi kunci kesehatan mental dan kesadaran diri.
Psikolog Virginia Hanny menjelaskan fenomena post holiday blues yang kerap menyerang pekerja dan pelajar usai liburan. Kenali gejalanya dan kapan harus waspada.
Sebelum tragedi pembunuhan Rob Reiner dan istrinya, polisi ternyata pernah dua kali mendatangi rumah mereka terkait isu kesehatan mental Nick Reiner.
Tim dokter FKUI dan relawan UI Peduli memberikan dukungan psikososial dan layanan medis bagi penyintas banjir dan longsor di Samar Kilang, Aceh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved