Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PENURUNAN semangat setelah masa libur usai sering kali membuat seseorang merasa tidak berdaya saat harus kembali ke rutinitas pekerjaan atau sekolah. Kondisi ini kerap memunculkan spekulasi apakah seseorang sedang mengalami burnout atau sekadar post-holiday blues.
Meski keduanya berkaitan dengan penurunan motivasi, psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan mendasar.
Menurut Virginia, perbedaan paling mencolok terletak pada dampak emosional dan sikap individu terhadap tanggung jawabnya.
“Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis, dan penurunan pencapaian personal, sedangkan post holiday blues tidak sampai mengubah sikap dasar terhadap pekerjaan atau sekolah,” ujar Virginia, dikutip Rabu (7/1).
Psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini menjelaskan bahwa masyarakat dapat mengidentifikasi perbedaan kedua kondisi tersebut melalui tiga indikator utama: durasi, penyebab, dan perilaku terhadap pekerjaan.
Dari segi waktu, post-holiday blues cenderung bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya seiring penyesuaian diri. Sebaliknya, burnout merupakan kondisi kronis yang bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama jika tidak ditangani.
“Perbedaan yang umum antara keduanya bisa dari durasi, burnout bisa terjadi bahkan bertahun-tahun, sementara post holiday blues hanya bertahan beberapa hari sampai maksimal dua minggu,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth tersebut.
Secara kausalitas, burnout dipicu oleh tekanan kerja yang berat dan berlangsung terus-menerus. Sementara itu, post-holiday blues muncul murni karena adanya fase transisi psikologis dari suasana liburan yang santai kembali ke rutinitas yang terstruktur.
Perbedaan juga terlihat jelas pada perilaku individu di lingkungan kerja. Seseorang yang mengalami burnout cenderung menunjukkan sikap apatis dan menarik diri dari lingkungan sosial maupun profesional dalam jangka panjang. Sementara pada post-holiday blues, rasa enggan yang muncul hanya bersifat momentum.
“Perilaku individu terhadap pekerjaan, seseorang yang burnout bisa apatis dan bahkan menarik diri dari pekerjaan dalam waktu yang lama, sementara individu yang mengalami post-holiday blues hanya merasa enggan untuk sementara,” tambahnya.
Untuk mengatasi post-holiday blues, Virginia menyarankan beberapa langkah praktis guna memperlancar masa transisi, di antaranya:
Terakhir, Virginia menekankan pentingnya validasi diri. “Menyadari bahwa emosi ini valid dan wajar, namun tidak kerap berlarut-larut, berdiskusi dengan orang-orang terdekat atau tenaga profesional,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
Post holiday blues merupakan kondisi emosional sementara yang muncul tepat setelah periode libur atau perayaan berakhir.
Psikolog Virginia Hanny menjelaskan fenomena post holiday blues yang kerap menyerang pekerja dan pelajar usai liburan. Kenali gejalanya dan kapan harus waspada.
Post holiday blues mungkin banyak dirasakan pada anak usia 6-12 tahun karena pada usia ini, anak mulai belajar menjadi lebih mandiri dan ingin merasa mampu dalam berbagai hal.
Perasaan sedih dan stres saat harus kembali ke rutinitas usai liburan dalam dunia psikologi disebut dengan istilah post holiday blues.
Post holiday blues adalah kondisi perubahan mood (suasana hati) sebagai akibat dari transisi antara masa liburan kepada kondisi rutin yang harus dihadapi kembali.
Musim sakura selalu menjadi salah satu periode perjalanan yang paling ditunggu wisatawan asal Indonesia.
Liburan 2026 tanpa bikin tabungan jebol? Simak tips perencanaan finansial ala HSBC agar traveling tetap nyaman tanpa mengganggu stabilitas keuangan
MENINGKATNYA mobilitas masyarakat, baik untuk keperluan bisnis maupun liburan, mendorong perubahan pola kebutuhan perlindungan perjalanan.
Nicole Kidman merayakan status barunya dengan petualangan ke Antartika bersama anak-anaknya.
Keterlibatan orangtua sangat krusial dalam membangun kepercayaan diri anak saat harus beradaptasi kembali dengan lingkungan pendidikan usai periode liburan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved