Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENURUNAN semangat setelah masa libur usai sering kali membuat seseorang merasa tidak berdaya saat harus kembali ke rutinitas pekerjaan atau sekolah. Kondisi ini kerap memunculkan spekulasi apakah seseorang sedang mengalami burnout atau sekadar post-holiday blues.
Meski keduanya berkaitan dengan penurunan motivasi, psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan mendasar.
Menurut Virginia, perbedaan paling mencolok terletak pada dampak emosional dan sikap individu terhadap tanggung jawabnya.
“Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis, dan penurunan pencapaian personal, sedangkan post holiday blues tidak sampai mengubah sikap dasar terhadap pekerjaan atau sekolah,” ujar Virginia, dikutip Rabu (7/1).
Psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini menjelaskan bahwa masyarakat dapat mengidentifikasi perbedaan kedua kondisi tersebut melalui tiga indikator utama: durasi, penyebab, dan perilaku terhadap pekerjaan.
Dari segi waktu, post-holiday blues cenderung bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya seiring penyesuaian diri. Sebaliknya, burnout merupakan kondisi kronis yang bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama jika tidak ditangani.
“Perbedaan yang umum antara keduanya bisa dari durasi, burnout bisa terjadi bahkan bertahun-tahun, sementara post holiday blues hanya bertahan beberapa hari sampai maksimal dua minggu,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth tersebut.
Secara kausalitas, burnout dipicu oleh tekanan kerja yang berat dan berlangsung terus-menerus. Sementara itu, post-holiday blues muncul murni karena adanya fase transisi psikologis dari suasana liburan yang santai kembali ke rutinitas yang terstruktur.
Perbedaan juga terlihat jelas pada perilaku individu di lingkungan kerja. Seseorang yang mengalami burnout cenderung menunjukkan sikap apatis dan menarik diri dari lingkungan sosial maupun profesional dalam jangka panjang. Sementara pada post-holiday blues, rasa enggan yang muncul hanya bersifat momentum.
“Perilaku individu terhadap pekerjaan, seseorang yang burnout bisa apatis dan bahkan menarik diri dari pekerjaan dalam waktu yang lama, sementara individu yang mengalami post-holiday blues hanya merasa enggan untuk sementara,” tambahnya.
Untuk mengatasi post-holiday blues, Virginia menyarankan beberapa langkah praktis guna memperlancar masa transisi, di antaranya:
Terakhir, Virginia menekankan pentingnya validasi diri. “Menyadari bahwa emosi ini valid dan wajar, namun tidak kerap berlarut-larut, berdiskusi dengan orang-orang terdekat atau tenaga profesional,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
Guru Besar Psikologi UI Prof. Rose Mini membagikan tips jitu mengatasi post holiday blues agar kembali produktif bekerja dengan cara berpikir positif.
Post holiday blues biasanya ditandai dengan perasaan cemas sementara, sedih, rendahnya motivasi, hingga hilangnya semangat saat harus beralih dari suasana liburan ke rutinitas harian.
Fenomena post holiday blues atau penurunan suasana hati merupakan hal yang wajar.
Post holiday blues merupakan kondisi emosional sementara yang muncul tepat setelah periode libur atau perayaan berakhir.
Psikolog Virginia Hanny menjelaskan fenomena post holiday blues yang kerap menyerang pekerja dan pelajar usai liburan. Kenali gejalanya dan kapan harus waspada.
Guru Besar Psikologi UI Prof. Rose Mini membagikan tips jitu mengatasi post holiday blues agar kembali produktif bekerja dengan cara berpikir positif.
Liburan ke Bali belum lengkap tanpa oleh-oleh. Temukan Falala Chocolate, cokelat premium Bali dengan rasa unik, kemasan elegan, dan harga terjangkau.
Post holiday blues biasanya ditandai dengan perasaan cemas sementara, sedih, rendahnya motivasi, hingga hilangnya semangat saat harus beralih dari suasana liburan ke rutinitas harian.
Saat ini, Indonesia memiliki 57 taman nasional dan 145 taman wisata alam dengan total 580 pintu masuk.
Hiperpigmentasi sendiri adalah kondisi munculnya bercak gelap atau warna kulit tidak merata akibat produksi melanin berlebih.
Awas, saat liburan ternyata ada peningkatan kasus gangguan kardiovaskular. Simak gejalanya berikut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved