Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Signifikan Burnout dan Post-Holiday Blues

Basuki Eka Purnama
07/1/2026 07:18
Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Signifikan Burnout dan Post-Holiday Blues
Ilustrasi(Freepik)

PENURUNAN semangat setelah masa libur usai sering kali membuat seseorang merasa tidak berdaya saat harus kembali ke rutinitas pekerjaan atau sekolah. Kondisi ini kerap memunculkan spekulasi apakah seseorang sedang mengalami burnout atau sekadar post-holiday blues. 

Meski keduanya berkaitan dengan penurunan motivasi, psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan mendasar.

Menurut Virginia, perbedaan paling mencolok terletak pada dampak emosional dan sikap individu terhadap tanggung jawabnya.

“Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis, dan penurunan pencapaian personal, sedangkan post holiday blues tidak sampai mengubah sikap dasar terhadap pekerjaan atau sekolah,” ujar Virginia, dikutip Rabu (7/1).

Membedakan dari Durasi dan Penyebab

Psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini menjelaskan bahwa masyarakat dapat mengidentifikasi perbedaan kedua kondisi tersebut melalui tiga indikator utama: durasi, penyebab, dan perilaku terhadap pekerjaan.

Dari segi waktu, post-holiday blues cenderung bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya seiring penyesuaian diri. Sebaliknya, burnout merupakan kondisi kronis yang bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama jika tidak ditangani.

“Perbedaan yang umum antara keduanya bisa dari durasi, burnout bisa terjadi bahkan bertahun-tahun, sementara post holiday blues hanya bertahan beberapa hari sampai maksimal dua minggu,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth tersebut.

Secara kausalitas, burnout dipicu oleh tekanan kerja yang berat dan berlangsung terus-menerus. Sementara itu, post-holiday blues muncul murni karena adanya fase transisi psikologis dari suasana liburan yang santai kembali ke rutinitas yang terstruktur.

Perubahan Perilaku dan Cara Mengatasinya

Perbedaan juga terlihat jelas pada perilaku individu di lingkungan kerja. Seseorang yang mengalami burnout cenderung menunjukkan sikap apatis dan menarik diri dari lingkungan sosial maupun profesional dalam jangka panjang. Sementara pada post-holiday blues, rasa enggan yang muncul hanya bersifat momentum.

“Perilaku individu terhadap pekerjaan, seseorang yang burnout bisa apatis dan bahkan menarik diri dari pekerjaan dalam waktu yang lama, sementara individu yang mengalami post-holiday blues hanya merasa enggan untuk sementara,” tambahnya.

Untuk mengatasi post-holiday blues, Virginia menyarankan beberapa langkah praktis guna memperlancar masa transisi, di antaranya:

  • Membangun kembali rutinitas secara bertahap.
  • Memperbaiki pola tidur agar kembali konsisten.
  • Menetapkan tujuan atau *goals* kecil untuk memicu motivasi harian.
  • Tetap meluangkan waktu untuk hobi, olahraga ringan, dan bersosialisasi.

Terakhir, Virginia menekankan pentingnya validasi diri. “Menyadari bahwa emosi ini valid dan wajar, namun tidak kerap berlarut-larut, berdiskusi dengan orang-orang terdekat atau tenaga profesional,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya