Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Mengenal Post Holiday Blues: Mengapa Kembali ke Rutinitas Terasa Berat?

Basuki Eka Purnama
07/1/2026 11:13
Mengenal Post Holiday Blues: Mengapa Kembali ke Rutinitas Terasa Berat?
Ilustrasi(Freepik)

BERAKHIRNYA masa liburan sering kali menyisakan perasaan tidak nyaman bagi sebagian orang. Kondisi emosional ini dikenal dengan istilah post holiday blues, sebuah fenomena transisi yang bisa menyerang siapa saja, mulai dari pelajar hingga pekerja kantoran.

Psikolog klinis dari Universitas Padjajaran, Virginia Hanny, M.Psi., menjelaskan bahwa post holiday blues merupakan kondisi emosional sementara yang muncul tepat setelah periode libur atau perayaan berakhir. 

Menurutnya, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan fase adaptasi mental seseorang.

“Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran,” ujar Virginia, dikutip Rabu (7/1).

Mengenali Gejala dan Tanda

Transisi dari suasana santai ke jadwal yang padat sering kali memicu respons psikologis tertentu. 

Virginia memaparkan bahwa gejala yang muncul bisa bervariasi, namun umumnya meliputi perasaan sedih, murung, atau merasa hampa tanpa alasan yang jelas. 

Selain itu, penurunan motivasi untuk kembali beraktivitas menjadi ciri utama yang paling sering dirasakan.

Gejala lain yang perlu diperhatikan meliputi aspek fisik dan kognitif, seperti:

  • Mudah lelah dan lesu.
  • Sulit berkonsentrasi saat bekerja atau belajar.
  • Gangguan pola tidur.
  • Mudah tersinggung atau merasa cemas saat memikirkan kewajiban yang menanti.

“Mudah lelah, lesu atau sulit konsentrasi, gangguan tidur; mudah tersinggung atau merasa cemas ketika dihadapkan oleh kewajiban, serta perasaan 'tidak siap' untuk menghadapi rutinitas kembali,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth tersebut.

Respons Adaptif, Bukan Gangguan Mental

Meskipun terasa mengganggu, Virginia menegaskan bahwa post holiday blues pada dasarnya bukanlah sebuah gangguan mental. Kondisi ini merupakan bentuk respons adaptif manusia terhadap perubahan rutinitas dan tuntutan hidup yang kembali datang secara tiba-tiba.

Secara umum, kondisi ini dianggap masih dalam batas wajar apabila berlangsung dalam hitungan hari hingga dua minggu ke depan. 

Seiring berjalannya waktu, suasana hati (mood) dan energi seseorang biasanya akan berangsur pulih dan menyesuaikan diri kembali dengan ritme harian.

Kapan Harus Menghubungi Profesional?

Meski lazim terjadi, masyarakat diimbau untuk tetap peka terhadap durasi gejala yang dirasakan. Batas waktu dua minggu menjadi patokan penting untuk melakukan evaluasi mandiri. 

Jika perasaan sedih atau tidak berdaya tersebut menetap lebih lama, hal itu bisa menjadi sinyal adanya masalah yang lebih mendalam.

“Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu di akademik atau pekerjaan, karena bisa jadi mereka bukan lagi post holiday blues,” ungkap Virginia.

Jika kondisi tersebut terjadi, ia menyarankan agar segera mencari bantuan dari profesional yang kompeten, seperti psikolog klinis atau psikiater, guna mendapatkan penanganan yang tepat sebelum berdampak lebih jauh pada produktivitas dan kesejahteraan mental. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik