Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Bahasa Ibu untuk Pendidikan Bermutu

Ahmad Khoironi Arianto Widyabasa Badan Bahasa Kemendikdasmen
26/2/2026 05:15
Bahasa Ibu untuk Pendidikan Bermutu
(Dok. Pribadi)

BELAKANGAN ini, ruang media sosial diramaikan perbincangan mengenai istilah 'bahasa ibu' yang memantik refleksi publik. Dalam salah satu potongan video yang beredar, bahasa ibu dimaknai sebagai bahasa yang digunakan seorang ibu dalam keseharian bersama anaknya, seperti cara memanggil ketika menegur, kelembutan suara saat menenangkan, ketegasan intonasi ketika memberikan nasihat, atau keceriaan ketika memberikan pujian.

Setiap ibu, menurut narasi tersebut, memiliki corak bahasa unik yang hanya benar-benar dipahami anaknya. Dalam perspektif emosional dan sosial, pemahaman itu tidak keliru karena bahasa memang menjadi medium ekspresi kasih sayang, kedekatan, dan relasi batin.

Namun, dalam disiplin linguistik dan pendidikan, istilah bahasa ibu memiliki batasan konseptual yang lebih spesifik. Bahasa ibu dipahami sebagai bahasa pertama yang diperoleh seorang anak melalui proses pemerolehan alami (language acquisition) di lingkungan keluarga dan komunitas terdekatnya. Bahasa itu tidak dipelajari melalui metode formal seperti di ruang kelas, tetapi melalui interaksi sehari-hari yang berlangsung secara spontan dan berulang. Melalui bahasa itulah anak membangun pemahaman awal tentang dunia, mengonstruksi makna, dan menata pengalaman hidupnya.

Kedua pemaknaan tersebut sejatinya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Secara ilmiah, bahasa ibu ialah bahasa pertama yang dikuasai; secara psikologis, ia bahasa yang paling intim dan membekas dalam kesadaran emosional anak. Titik temunya terletak pada peran bahasa ibu sebagai fondasi identitas. Dari bahasa pertama itulah terbentuk cara pandang terhadap realitas. Oleh sebab itu, pembahasan tentang bahasa ibu tidak cukup ditempatkan sebagai istilah teknis linguistik, tetapi harus dipahami sebagai dasar strategis dalam pembangunan pendidikan dan masa depan generasi.

 

ANCAMAN KEBERAGAMAN 

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2023 mencatat lebih dari 718 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan juga representasi kekayaan sejarah, budaya, dan pengetahuan lokal yang terakumulasi selama ratusan tahun. Setiap bahasa tumbuh dari pengalaman kolektif komunitas penuturnya; di dalamnya tersimpan kosakata tentang alam, sistem kekerabatan, filosofi hidup, hingga praktik sosial yang khas. Bahasa, dengan demikian, ialah arsip hidup peradaban.

Ironisnya, dalam arus globalisasi dan orientasi ekonomi modern, bahasa daerah kerap dipandang tidak memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi. UNESCO dalam Atlas of the World’s Languages in Danger mencatat bahwa ratusan bahasa di Indonesia berada pada kategori rentan hingga terancam punah. Banyak di antaranya hanya dituturkan generasi lanjut usia, sementara generasi muda lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing yang dianggap lebih prestisius. Terputusnya transmisi antargenerasi menjadi faktor utama yang mempercepat kepunahan bahasa. Krisis itu berlangsung tanpa hiruk-pikuk, tetapi dampaknya sangat nyata: hilangnya identitas kolektif dan memudarnya warisan intelektual lokal.

Bahasa ibu sebagai bahasa interaksi alami di keluarga memegang peran sentral dalam pembentukan identitas diri dan struktur berpikir anak. Ketika bahasa ibu tumbuh kuat, anak tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga menyerap nilai, norma, dan cara pandang komunitasnya. Di sinilah proses pembentukan karakter berlangsung secara organik. Bahasa menjadi ruang legitimasi identitas sekaligus medium penguatan jati diri.

 

BAHASA IBU DALAM PERKEMBANGAN KOGNITIF

Dalam perspektif psikologi pendidikan dan linguistik terapan, bahasa ibu memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan kognitif anak. Sejak usia dini, anak mengonstruksi konsep-konsep dasar melalui bahasa pertama yang ia dengar setiap hari. Kosakata yang merujuk pada pengalaman konkret, seperti anggota tubuh, relasi keluarga, aktivitas rutin, dan fenomena alam, membangun jaringan makna yang kukuh. Jaringan itu menjadi landasan ketika anak memasuki tahap pembelajaran abstrak di sekolah, seperti memahami konsep bilangan, klasifikasi ilmiah, atau penalaran logis.

Penelitian Global Education Monitoring Report UNESCO (2020) menunjukkan penggunaan bahasa ibu pada kelas awal berkorelasi positif dengan peningkatan literasi dasar dan numerasi. UNICEF (2016) juga menegaskan bahwa anak yang memperoleh pembelajaran awal dalam bahasa pertama cenderung lebih percaya diri dan aktif berpartisipasi. Sebaliknya, ketika bahasa pengantar di sekolah berbeda dari bahasa rumah, anak menghadapi beban kognitif ganda. Ia harus memahami struktur bahasa baru sekaligus menangkap isi pelajaran. Hambatan itu kerap disalahartikan sebagai rendahnya kecerdasan, padahal akar persoalannya terletak pada kesenjangan bahasa.

Pendekatan mother tongue-based multilingual education (MTB-MLE) yang diterapkan di berbagai negara menunjukkan efektivitas strategi itu. Anak yang belajar melalui bahasa yang akrab secara emosional lebih mudah membangun fondasi literasi yang kuat. Setelah fondasi tersebut terbentuk, transisi menuju bahasa nasional dan bahasa asing berlangsung lebih mulus karena kerangka berpikirnya telah mapan.

 

PRAKTIK GLOBAL

Sejumlah negara telah membuktikan bahwa penguatan bahasa ibu dalam sistem pendidikan tidak menghambat kemajuan. Filipina sejak 2012 menerapkan kebijakan MTB-MLE secara nasional dengan mengakui lebih dari 19 bahasa lokal sebagai bahasa pengantar kelas awal. Evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan membaca serta penurunan angka putus sekolah di beberapa wilayah. Finlandia memberikan hak kepada siswa minoritas, termasuk penutur Sami, untuk belajar dalam bahasa ibu sebagai bagian dari prinsip pendidikan inklusif. Di Selandia Baru, revitalisasi bahasa Maori melalui kebijakan pendidikan berhasil membalikkan tren kepunahan dan menghidupkan kembali penggunaan bahasa tersebut di ruang publik.

Pengalaman internasional itu menunjukkan bahwa pelestarian bahasa ibu merupakan investasi jangka panjang dalam kualitas sumber daya manusia. Identitas lokal dan daya saing global bukan dua kutub yang saling meniadakan. Justru, penghargaan terhadap bahasa pertama memperkuat rasa percaya diri kolektif sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran.

 

KOLABORASI PENDIDIKAN

Sejak Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia diteguhkan sebagai bahasa persatuan yang menjembatani ratusan identitas etnolinguistik di Nusantara. Keputusan historis tersebut bukan hanya simbol politik, melainkan juga fondasi kebangsaan yang memungkinkan komunikasi lintas suku, agama, dan wilayah. Namun, penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak serta-merta menuntut penghapusan bahasa ibu. Justru, keduanya dapat ditempatkan dalam relasi yang saling menguatkan melalui model pendidikan dwibahasa atau bahkan multibahasa yang terencana dengan baik.

Model itu menempatkan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pada fase awal pendidikan, khususnya di kelas rendah sekolah dasar, kemudian secara bertahap memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa akademik nasional. Pendekatan semacam itu bukan kompromi, melainkan strategi pedagogis yang berbasis riset. Anak yang memahami konsep dasar dalam bahasa pertama cenderung lebih siap mentransfer pengetahuan tersebut ke bahasa kedua. Dengan demikian, bahasa Indonesia tetap kukuh sebagai bahasa persatuan, sementara bahasa ibu berfungsi sebagai jembatan kognitif dan kultural.

Peran pemerintah dalam skema ini sangat menentukan. Penguatan regulasi tentang penggunaan bahasa ibu di kelas awal perlu diiringi dengan penyediaan bahan ajar yang kontekstual dan bermutu. Buku cerita anak dalam bahasa daerah, modul pembelajaran tematik, serta media digital interaktif dapat menjadi instrumen efektif. Selain itu, pelatihan guru menjadi krusial. Guru perlu dibekali kompetensi pedagogis untuk mengelola kelas multibahasa, memahami strategi translanguaging, dan mampu merancang transisi bertahap dari bahasa ibu ke bahasa Indonesia tanpa menimbulkan kebingungan kognitif pada peserta didik.

Di sisi lain, keluarga dan komunitas memegang peran yang tidak kalah penting. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri jika bahasa ibu tidak lagi hidup di rumah. Orangtua perlu menyadari bahwa berbicara kepada anak dalam bahasa daerah bukanlah hambatan kemajuan, melainkan investasi kecerdasan dan identitas. Komunitas adat, tokoh masyarakat, dan lembaga kebudayaan dapat menghidupkan kembali tradisi lisan, dongeng, lagu daerah, serta praktik budaya yang menggunakan bahasa lokal. Media massa dan platform digital juga dapat menjadi ruang aktualisasi bahasa ibu agar tetap relevan di tengah arus teknologi.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan itulah yang akan menentukan keberhasilan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia emas 2045. Pendidikan yang bermutu tidak cukup diukur dari capaian numerasi dan literasi semata, tetapi juga dari sejauh mana ia menghargai akar sosial-budaya peserta didik. Bahasa ibu bukan sekadar warisan sentimental yang dipelihara karena nostalgia. Ia instrumen kognitif, perekat identitas, dan sumber rasa percaya diri kolektif.

Pada akhirnya, merawat bahasa ibu berarti merawat keberagaman cara berpikir bangsa. Ketika anak-anak Indonesia dapat belajar dengan memahami, bukan sekadar menghafal; ketika mereka tumbuh dengan identitas yang utuh tanpa kehilangan daya saing global; di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam. Masa depan pendidikan Indonesia bukanlah pilihan antara lokal dan nasional, melainkan harmoni keduanya dalam satu visi yang berkeadilan dan berkelanjutan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya