Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Ini Tips Mengatasi Post Holiday Blues

Basuki Eka Purnama
03/4/2026 09:23
Ini Tips Mengatasi Post Holiday Blues
Ilustrasi(Freepik)

LIBUR panjang sering kali meninggalkan perasaan berat saat harus kembali ke rutinitas pekerjaan. Fenomena yang dikenal sebagai post holiday blues ini kerap ditandai dengan rasa cemas, sedih, hingga penurunan motivasi. Namun, kondisi ini sebenarnya dapat dikendalikan dengan manajemen pikiran yang tepat.

Guru Besar Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, yang akrab disapa Bunda Romy, menjelaskan bahwa kunci utama menghadapi transisi ini adalah dengan fokus pada sisi positif.

“Untuk menghindari holiday blues ini, kita harus tahu bahwa di dalam kehidupan kantor tidak semuanya tidak nyaman. Kita bisa bertemu teman-teman kantor, dan di akhir pekan pun kita masih bisa pergi jalan-jalan bersama keluarga,” ujar Romy, dikutip Jumat (3/4).

Memahami Post Holiday Blues

Secara psikologis, post holiday blues merupakan perasaan cemas atau sedih sementara yang muncul setelah seseorang menyelesaikan kegiatan menyenangkan dan harus kembali ke situasi rutin. Perubahan drastis dari suasana santai ke tekanan pekerjaan sering kali memicu beban pikiran.

Untuk mempermudah transisi tersebut, Romy menyarankan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh para pekerja:

Langkah Strategis Manfaat bagi Mental
Menyusun Skala Prioritas Mengurangi beban pikiran akibat penumpukan pekerjaan yang tidak terhindarkan.
Adaptasi Bertahap (Gradual) Membiasakan diri bangun pagi beberapa hari sebelum masuk kerja agar tubuh tidak kaget.
Istirahat yang Cukup Menyiapkan fisik dan suasana hati agar lebih siap menghadapi aktivitas rutin.
Berpikir Positif Melihat sisi menyenangkan dari pekerjaan, seperti interaksi sosial dengan rekan sejawat.

Pentingnya Sudut Pandang

Lebih lanjut, Romy menekankan bahwa pengalaman selama liburan pun tidak selalu berjalan mulus. Kendala saat mudik atau dinamika saat bersilaturahmi dengan keluarga besar bisa saja terjadi. Namun, cara kita memaknai kejadian tersebut sangat menentukan kesehatan mental kita.

“Tergantung dari cara manusia berpikir. Kalau mau dilihat negatif, semua akan jadi negatif. Tapi kalau kita lihat ada sisi positifnya, itu akan menjadi lebih menyegarkan untuk kita,” tambahnya.

Dengan melakukan penyesuaian secara bertahap dan menjaga pola pikir yang optimis, transisi dari masa libur ke rutinitas kerja diharapkan tidak lagi menjadi beban yang memberatkan, melainkan awal yang segar untuk kembali produktif. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya