Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Dampak Media Sosial pada Remaja: Bahaya Algoritma dan Peran Orangtua

Basuki Eka Purnama
03/4/2026 08:19
Dampak Media Sosial pada Remaja: Bahaya Algoritma dan Peran Orangtua
Ilustrasi(Freepik)

PENGGUNAAN gawai dan media sosial yang berlebihan kini menjadi perhatian serius bagi para pakar psikologi. Algoritma platform digital yang dirancang sedemikian rupa dinilai mampu mengubah perilaku remaja, mulai dari memicu ketergantungan hingga membentuk pola hidup konsumtif.

Psikolog anak, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja dengan cara memapar pengguna pada konten yang relevan dengan minat mereka secara terus-menerus. Hal ini menciptakan fenomena "dunia yang sempit" bagi remaja.

"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," ujar Prof. Rose Mini, dikutip Jumat (3/4)

Risiko Perilaku Impulsif dan Konsumtif

Selain ketergantungan layar, kemudahan transaksi digital di dalam platform media sosial juga menjadi ancaman. Remaja cenderung menjadi impulsif karena proses belanja yang terasa sangat mudah dan tidak terlihat secara fisik.

Menurut Prof. Rose Mini, banyak remaja yang tahu cara membelanjakan uang melalui platform digital, namun belum memahami sulitnya mencari uang. Tanpa edukasi dan pengawasan orangtua, kondisi ini dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak terkendali.

Senada dengan hal tersebut, psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP, menyoroti sisi neurologis remaja. Ia menyebutkan bahwa sistem kerja otak remaja masih berkembang dan sangat sensitif terhadap stimulasi cepat.

"TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya," jelas Alva.

Analisis Dampak Media Sosial pada Psikologi Remaja
Aspek Dampak/Risiko
Algoritma Paparan konten berulang yang membatasi wawasan dan memicu ketergantungan.
Finansial Munculnya perilaku konsumtif akibat kemudahan transaksi digital.
Psikologis Kebutuhan akan validasi (likes/komentar) sebagai bentuk pencarian identitas.
Perkembangan Keterampilan sosial, berpikir kritis, dan kreatif menjadi tidak optimal.

Pentingnya Kontrol dan Pendampingan Orang Tua

Menghadapi tantangan digital ini, Prof. Rose Mini menekankan bahwa peran orangtua sangat krusial. Orangtua harus mampu mengajari anak cara menahan diri dan mengontrol penggunaan gawai agar tetap produktif.

Penggunaan gawai sebaiknya dibatasi untuk keperluan sekolah atau kegiatan yang bermanfaat. Jika remaja menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia maya, aspek penting seperti keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kritis mereka berisiko tidak terasah dengan baik.

Di sisi lain, pemerintah juga telah mengambil langkah dengan memberlakukan peraturan pembatasan akses platform digital berisiko tinggi bagi anak di bawah usia 16 tahun. Namun, keberhasilan aturan ini tetap bergantung pada dukungan, pendampingan, dan pengawasan ketat dari orangtua di rumah. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya