Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Strategi SMART: Tips Psikolog UI Atur Medsos Anak Tanpa Picu Konflik

Basuki Eka Purnama
30/3/2026 05:40
Strategi SMART: Tips Psikolog UI Atur Medsos Anak Tanpa Picu Konflik
Ilustrasi(Freepik)

MEMBATASI penggunaan media sosial pada anak sering kali menjadi pemicu konflik di rumah. Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog, menyarankan orangtua untuk menerapkan prinsip SMART guna menciptakan aturan yang efektif dan minim penolakan.

Menurut Teresa, pendekatan yang terlalu keras atau sepihak justru berisiko membuat anak memberontak. 

“Anak sekarang sangat sensitif terhadap kontrol yang terasa sepihak. Kalau hanya dilarang tanpa diajak bicara, mereka cenderung melawan atau melakukannya diam-diam,” ujar Teresa, dikutip Senin (30/3).

Mengenal Prinsip SMART dalam Pengasuhan Digital

Teresa merinci akronim SMART sebagai panduan praktis bagi orangtua:

  • S (Sepakati aturan bersama): Melibatkan anak dalam menentukan batas waktu dan jenis konten. “Ketika anak ikut menentukan, mereka merasa dihargai. Rasa memiliki itu membuat mereka lebih bertanggung jawab,” jelasnya.
  • M (Model dari orangtua): Keteladanan adalah fondasi utama. Teresa menegaskan tidak realistis meminta anak berhenti scrolling jika orangtua sendiri tidak lepas dari ponsel di rumah.
  • A (Ajarkan literasi digital): Orangtua perlu mengedukasi anak mengenai risiko perundungan siber, hoaks, hingga cara kerja algoritma. Anak perlu memahami alasan di balik sebuah aturan.
  • R (Rutinitas tanpa gadget): Menetapkan waktu khusus bebas gawai, seperti saat makan bersama atau satu jam sebelum tidur.
  • T (Tetap terbuka untuk ngobrol): Membangun komunikasi hangat agar anak nyaman bercerita tentang pengalaman digitalnya.

Pentingnya Keteladanan dan Alternatif Aktivitas

Senada dengan Teresa, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, turut menekankan pentingnya peran orangtua sebagai role model.

“Orangtua adalah contoh bagi anak. Jangan minta anak tidak banyak menggunakan gadget kalau orang tuanya sendiri tidak bisa lepas dari handphone,” tegas Prof. Rose Mini.

Ia juga mengingatkan bahwa pembatasan gawai tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan alternatif kegiatan yang menarik. 

Jika penggunaan media sosial dikurangi, orangtua harus kreatif menciptakan program atau aktivitas lain di rumah yang mampu menyaingi daya tarik konten digital.

Kesimpulannya, pengaturan media sosial pada anak akan jauh lebih berhasil jika dibangun melalui komunikasi dua arah, keteladanan nyata, dan keterlibatan aktif orang tua dalam keseharian anak. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik