Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA bencana ialah guru, ia mengajar dengan cara paling kejam, melalui tangis dan nyawa yang melayang. Namun, pelajaran tentang alam tak perlu menunggu air bah datang. Kecerdasan ekologis, kesadaran bahwa hutan bukan sekadar kayu dan sungai bukan sekadar air, harus ditanamkan sejak anak-anak mengenal lingkungan. Tanpanya, pembangunan hanya melahirkan kemajuan semu yang dibayar mahal dengan kerusakan dan bencana berulang. Bukti nyata ironi itu baru saja kita saksikan pada pengujung 2025.
Banjir dan tanah longsor melanda Sumatra pada akhir 2025 menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat serius. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bencana di tiga provinsi, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menewaskan lebih dari seribu orang dan membuat ratusan lainnya hilang. Di Aceh sendiri, ratusan warga dilaporkan meninggal dan puluhan orang masih dinyatakan hilang, sementara puluhan ribu warga terpaksa mengungsi.
Di balik angka-angka itu, para ahli mengidentifikasi dua faktor utama. Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu utama, tetapi kerusakan hutan di daerah hulu sungai dalam beberapa tahun terakhir turut memperparah dampak banjir. Hilangnya tutupan hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air sehingga limpasan air meningkat dan risiko banjir serta longsor menjadi lebih besar.
NASIB HUTAN INDONESIA
Hutan tropis Indonesia terus menyusut setiap tahun. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan tutupan hutan Indonesia kini sekitar separuh dari luas wilayah daratan. Kondisi itu kontras dengan negara seperti Butan yang secara konstitusional menjaga lebih dari 70% wilayah mereka tetap berhutan dan mengukur kesejahteraan masyarakat tidak semata dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kebahagiaan dan keseimbangan lingkungan. Sebagai daerah tropis, Indonesia idealnya memiliki tutupan hutan 40%-60% untuk mencegah bencana dan menjaga biodiversitas. Fungsi vital hutan bagi kehidupan memang tak terbantahkan: pepohonan menyerap air hujan, menahan erosi, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika hutan berkurang, air hujan yang seharusnya terserap tanah justru mengalir deras ke permukiman dan memicu banjir serta longsor.
Bencana itu menjadi pengingat nyata akan hubungan antara kerusakan lingkungan dan meningkatnya risiko bencana. Curah hujan tinggi yang dipicu dinamika atmosfer regional memang menjadi faktor pemicu. Namun, kerusakan hutan dan tata kelola lahan yang buruk memperbesar dampaknya terhadap masyarakat. Ribuan rumah rusak dan banyak warga terpaksa mengungsi ketika air meluap dari sungai yang tidak lagi mampu menampung debit hujan.
Peristiwa semacam itu menunjukkan bencana tidak hanya dipicu faktor alam, tetapi juga oleh cara manusia mengelola lingkungan mereka. Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan tata ruang diabaikan, alam kehilangan kemampuannya untuk melindungi manusia.
KEBIJAKAN YANG KELIRU
Kerusakan lingkungan di Indonesia tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari kebijakan pembangunan yang sering kali lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi jangka pendek daripada keberlanjutan lingkungan. Dalam beberapa dekade terakhir, izin perkebunan, pertambangan, dan infrastruktur terus meluas. Kepala daerah kadang menyalahgunakan kuasa memberi izin tambang di kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga ekosistem.
Regulasi yang bertujuan mempercepat investasi sering kali mempermudah perizinan, sementara pengawasan terhadap dampak lingkungan masih lemah. Akibatnya, kawasan hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga air dan pelindung tanah perlahan menyusut. Ia dirusak oleh penambangan yang membabi buta dan perkebunan yang menanam tumbuhan tak bisa menjaga struktur tanah. Kerusakan itu memang dipicu kebijakan, tetapi akar masalahnya lebih dalam. Ada faktor lain yang luput: lemahnya pendidikan ekologis dalam sistem pendidikan kita. Di banyak sekolah, pembelajaran tentang lingkungan masih bersifat teoretis dan terpisah dari pengalaman nyata siswa.
Anak-anak belajar tentang ekosistem dari buku teks, tetapi jarang diajak memahami bagaimana hutan di sekitar mereka menyimpan air, bagaimana sungai dapat tercemar, atau bagaimana perubahan penggunaan lahan memengaruhi kehidupan masyarakat. Tanpa pengalaman langsung, konsep lingkungan hidup menjadi abstrak dan sulit membentuk kepedulian yang mendalam.
Padahal, masyarakat lokal di berbagai daerah Indonesia memiliki pengetahuan tradisional yang selama berabad-abad membantu menjaga keseimbangan alam. Praktik pengelolaan hutan adat, larangan menebang pohon tertentu, hingga aturan pemanfaatan sumber daya secara kolektif merupakan bentuk kearifan ekologis yang terbukti mampu menjaga keberlanjutan lingkungan. Sayangnya, pengetahuan itu jarang terintegrasi dalam sistem pendidikan formal. Justru di sanalah harapan perbaikan jangka panjang berada.
Dengan menyadari celah inilah, pendidikan ekologis menjadi investasi jangka panjang yang sangat penting. Pendidikan itu tidak hanya mengajarkan teori tentang alam, tetapi juga membangun kesadaran tentang hubungan antara manusia dan lingkungan.
Sekolah dapat menjadi ruang awal untuk menumbuhkan kecerdasan ekologis. Pembelajaran tidak harus selalu dilakukan di ruang kelas. Siswa dapat diajak mengamati sungai di sekitar sekolah, mempelajari fungsi pepohonan dalam menjaga tanah, atau memahami bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Integrasi kearifan lokal juga perlu menjadi bagian dari kurikulum. Dengan mempelajari praktik pengelolaan lingkungan yang diwariskan masyarakat adat, siswa tidak hanya memahami sains, tetapi juga belajar menghargai nilai budaya yang mendukung keberlanjutan alam.
Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat kebijakan perlindungan lingkungan dan memastikan pembangunan ekonomi berjalan sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Pengelolaan hutan yang berkelanjutan, pengawasan terhadap pemanfaatan lahan, serta partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, kebijakan saja tak cukup tanpa perubahan cara pandang.
Kecerdasan ekologis akan membentuk generasi yang tidak lagi melihat hutan sebagai komoditas, tetapi sistem kehidupan yang menjaga keberlangsungan manusia. Investasi itu memang tak instan, tapi dalam jangka panjang akan melahirkan generasi penjaga bumi. Alam Indonesia yang kaya tidak seharusnya diwariskan dalam keadaan rusak. Jika bencana ialah guru, biarlah ia menjadi guru terakhir agar generasi mendatang tak lagi belajar dari tangis dan nyawa yang melayang.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya perubahan cara berpikir dan pendekatan struktural dalam menjaga hutan Indonesia.
Indonesia memiliki berbagai jenis hutan. Ini jenis hutan yang ada di Tanah Air.
Rozikin mengatakan respons dari Gema PS ini karena pihaknya telah merasakan langsung dampak dari kebijakan pemerintah yang dinilainya berpihak kepada rakyat.
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) saat ini sudah mulai menyebar disejumlah lokasi di pinggiran kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
KLHK memastikan bahwa pemegang izin konsesi dilibatkan dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Program WtE/PSEL di Bekasi, Denpasar, Yogyakarta, dan Bogor masuki tahap final tender. Danantara pastikan teknologi ramah lingkungan standar WHO. Ini respons DPD.
Transformasi menuju ekonomi hijau adalah sebuah keniscayaan yang profitabel.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang terus memperkuat kontribusinya terhadap upaya Indonesia dalam menarik investasi hijau di kancah global.
Empat perusahaan asal Jepang dan Indonesia resmi menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk melaksanakan studi kelayakan penerapan Joint Crediting Mechanism.
Proteksi hutan disebut sebagai hal yang krusial diperhatikan demi dampak investasi jangka panjang, baik untuk ekosistem, masyarakat, maupun ekonomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved